Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 April 2017

TAUHID ; Misi dakwah para Rasul

Para Rasul adalah Utusan Allah Ta'ala yang membawa misi Tauhid, firman Allah Ta'ala: "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS Al-Anbiya :25)

Dalam ranah praksis adalah "Mengajak masyarakat untuk mengabdi kepada Allah Ta'ala dan menjauhi pengabdian kepada Thaguth". Firman Allah Ta'ala: “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36).


Seperti Rasul Musa AS yang mengajak masyarakat beribadah kepada Allah Ta'ala sebagai Rabbul Aalamien (QS Al-Qashash : 29-32). Sekaligus mengajak masyarakat untuk menjauhi Thaguth, yang saat itu adalah Fir'aun dan kerajaannya (QS Thoha :24).

Inilah misi abadi seluruh para Rasul Allah yaitu MISI TAUHID, yang dalam ranah praksis adalah ajak masyarakat untuk mengabdi kepada Allah Ta'ala dan jauhi pengabdian kepada Thaguth:

[1] Nabi Nuh ‘alaihis salam

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. al-A’raaf: 59).

[2] Nabi Hud ‘alaihis salam

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan kepada kaum ‘Aad, Kami utus saudara mereka yaitu Hud. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. al-A’raaf: 65).

[3] Nabi Shalih ‘alaihis salam

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan kepada kaum Tsamud, Kami utus saudara mereka yaitu Shalih. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. al-A’raaf: 73).

[4] Nabi Syu’aib ‘alaihis salam

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan kepada kaum Madyan, Kami utus saudara mereka yaitu Syu’aib. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. al-A’raaf: 85).

[5] Nabi Ibrahim ‘alaihis salam

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari kalian dan telah nyata antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selamanya sampai kalian mau beriman kepada Allah saja.” (QS. al-Mumtahanah: 4).**** (Wakariem at Almukaromah, 11 April 2017)
Share:

Sabtu, 25 Maret 2017

ALGHUROBA yang Berbahagia

Kondisi ghurbah Islam (keterasingan Islam) adalah: kondisi dimana konsepsi Islam yang dikenal dimasyarakat bukanlah Islam yang Kaffah (komprehensif), tetapi konsepsi islam yang parsial. Islam hanya dikenali sebatas konsepsi ritual ataupun sebagiannya sosial saja, sedangkan konsepsi politik Islam, Jihad Islam, Daulah islam menjadi terasing dan tidak dikenali di tengah masyarakat.

Dalam kondisi seperti ini, maka umat islam yang memahami dan memegang Islam secara Kaffah juga, secara otomatis menjadi terasing (ghuraba) pula. Mereka berada dalam kondisi yang minoritas dan seringkali dianggap menyempal dari mainstream pemahaman mayoritas, sebab mayoritas masyarakat memahami Islam hanya sebatas ajaran moral, ritual dan setengah sosial.


Islam dipinggirkan hanya menjadi urusan privat sementara urusan sosial politik menjadi urusan penguasa. Islam di kandangi sebatas di masjid saja sementara di istana menjadi kuasa manusia. Dalam kondisi ini, mereka yang Istiqamah memegang Islam secara Kaffah, menjadi Ghuraba (asing) di tengah masyarakat. Akan tetapi, Rasulullah SAW menyatakan: “berbahagialah orang orang terasing (ghuraba) itu!” (HR Muslim, Baihaqi dll).

Siapa mereka yang dinyatakan Ghuraba (terasing) yang kemudian dinilai oleh Rasululullah SAW sebagai orang yang patut berbahagia?.
.
.
MINORITAS SHALIH YANG MENYELISIHI MAYORITAS YANG SESAT

Dalam salah satu hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Islam dimulai dalam kondisi asing, dan akan kembali sebagaimana ia dimulai (sebagai sesuatu yang) asing; maka berbahagialah bagi kaum ghuraba’ (orang-orang yang asing tersebut).” Seorang sahabat bertanya: “siapakah orang asing itu wahai Rasulullah?”, Rasulullah SAW menjawab:

أُنَاسٌ صَالحُونَ في أنَاس سُوءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أكْثَرُ ممَّنْ يُطِيعُهُمْ

“Mereka adalah orang-orang soleh yang sedikit jumlahnya di kalangan manusia yang ramai. Orang-orang yang menyelisihi mereka lebih ramai daripada orang-orang yang mengikut mereka.” (HR. Ahmad, Thabrani dan Baihaqi).

Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Aqidah Tauhid, dengan memurnikan Tauhid dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah SWT, disaat justru sebagian besar (mayoritas) masyarakat meninggalkannya.

Al-Ghuroba adalah orang-orang yang Hijrah dari segala bentuk kemusyrikan yang kotor, melaksanakan titah perintah Allah (والرجز فاهجر“Dan segala bentuk kemusyrikan tinggalkanlah!” (QS Al-Mudatsir (74) ayat 5). Menyatakan tidak kompromistis terhadap kejahiliyyahan, justru disaat sebagian besar masyarakat menyerah dan berkompromi dengan kejahiliyyahan.

Sikap anti komprominya dengan kemusyrikan dan kejahiliyyahan membuat Al-Ghuroba juga berhijrah dari mayoritas, firman Allah: “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka (hijrah) dengan cara yang baik.” (QS Al-Muzammil (73) ayat 10). “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS Al-An’am (6) ayat 116).

Mayoritas masyarakat lebih memilih menyerah kepada kejahiliyyahan dan memberikan loyalitas kepada struktur kejahiliyyahan. Mayoritas mau bersikap lunak dan menyerah. Sementara itu, Al-Ghuroba memilih baro’a atau meninggalkan struktur lembaga jahiliyyah, dengan tidak mau menjadi bagian dari masyarakatnya dan tidak mau mentaati kepemimpinan jahiliyyah, Firman Allah SWT: “Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS Al-Qalam (68) ayat 8-9).

Sikap tegas anti kompromistis dari Al-Ghuroba terhadap kemusyrikan dan kejahiliyyahan, nampak jelas dalam sikap Nabiyullah Ibrahim AS. Beliau dan para pengikutnya berlepas diri dari kejahiliyyahan dengan keluar dari lingkar kedaulatan Kerajaan (Negara) Mesir dan membangun kepemimpinan umat diluar Kekuasaan (lihat QS Al-Mumtahanah (60) ayat 4). Walaupun dengan demikian Ibrahim dengan para pengikutnya yang setia menjadi dianggap menyempal dari arus mainstream dan otomatis menjadi kelompok minoritas yang terasing (diasingkan) atau istilahnya Ghuroba.

Sungguh merekalah orang-orang yang Istiqomah dalam berkeyakinan dan bersikap, dan Allah member kabar gembira bagi mereka.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُون نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta.”(QS. Fushilat 30-31)

.
KELOMPOK YANG ISTIQAMAH DALAM BERTINDAK DAN BERJUANG

Dalam salah satu hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Islam dimulai dalam kondisi asing, dan akan kembali sebagaimana ia dimulai (sebagai sesuatu yang) asing; maka berbahagialah bagi kaum ghuraba’”. Lanjutan hadits tersebut adalah penjelasan siapa Al-Ghuroba tersebut:

اَلَّذيْنَ يُصَلِحُوْنَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي

“Yaitu orang-orang yang memperbaiki sunnahku sepeninggaku, sesudah dirusakkan oleh manusia” – HR. at-Tirmidzi, No. 2630 dan beliau menjelaskan bahawa hadis ini adalah hasah shahih.

Al-Ghuroba yang pasti dibahagiakan oleh Allah adalah mereka yang istiqomah dalam berjuang. Mereka adalah kelompok yang melakukan Ishlah atau gerakan perbaikan, disaat kondisi Islam dan Umat islam terasingkan.

Walaupun terasing karena diasingkan, mereka tetap semangat mengusung Jihad Fisabilillah, memegang al-haq (kebenaran) dan memperjuangkannya di muka bumi. Rasulullah SAW bersabda:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ، وَهُمْ كَذَلِكَ.

“Ada satu golongan dari umatku yang akan selalu berada di atas kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah sedangkan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.” (HR Muslim, no. 1920)

Al-Ghuroba adalah kelompok yang Dzahir (berdiri) diatas kebenaran Islam dan mendzahirkan (berjuang memenangkan-nya). *** (WAIMAN)

Pernah dimuat dalam MAJALAH AMANU

Almukaromah, 26 Maret 2017
Share:

KESABARAN, Positif Thinking dan PANTANG MENYERAH

Perintah Allah SWT agar bersabar dalam QS Ali Imran ayat 200, diulang sampai dua kali, tentu hikmahnya agar manusia memiliki sikap mental sabar yang tidak berbatas, justru batas dari ketidak sabaran adalah Tidak Bersabar.

Ada dua Rukun Sabar: {1} Menerima Kenyataan sepahit apapun, dan {2} Teguh dalam beramal shaleh.


Menerima kenyataan sepahit apapun.


Bahwa kenyataan yang berlaku, tidaklah terjadi dengan sendirinya tetapi semua terjadi atas kehendak Allah Ta’ala. Jauh sebelum makhluq diciptakan oleh Allah, Allah ta’ala telah menetapkan segala ketentuan (Qadha)-Nya dan mencatatnya di dalam kitab di Lauhil Mahfudz, dan ketika ketetapan itu berlaku, maka itu adalah Qadar (Takdir)-Nya.

Segala musibah yang menimpa manusia adalah ketentuan dan kuasa Allah, semua terjadi atas kehendak-Nya. Oleh karena itu maka, penerimaan atas kenyataan sepahit apapun adalah wujud Iman-nya kepada Qadha dan Qadar Allah.

Sebaliknya, jika justru kita tidak menerima, dongkol, berkeluh kesah atas kenyataan pahit yang menimpa kita adalah wujud kemarahan atas pemberian dan kehendak Allah.

Inilah rukun yang pertama dan utama dalam kesabaran. Tidak mungkin manusia sanggup bersabar atas apapun derita yang menimpa tanpa adanya kekuatan Iman kepada Qadha dan Qadar Allah. Maka, setiap manusia mukmin jika ia mendapat musibah, maka keyakinannya akan mendorong lisannya untuk mengucapkan “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun” (Sesungguhnya kami dari Allah dan sesunggguhnya kami akan kembali kepada-Nya), lihat QS Al-Baqarah  ayat 156.

Terimalah kenyataan sepahit apapun bahwa ini adalah pemberian dari Allah, dan yakini bahwa dibalik kenyataan pahit ini, ada hikmah kebaikan dan keberkahan yang menjadi rahasia Allah, yang dipersiapkan Allah untuk kita. Sebab segala takdir, yang baik maupun yang buru, disisi Allah semuanya adalah kebaikan (QS Ali Imran ayat 29). Disini kita menemukan pengertian sabar sebagai POSITIF THINKING.


Teguh dalam beramal Shaleh


Tidak ada kesabaran kecuali dalam kedisiplinan mematuhi titah perintah Ilahy. Walaupun sudah sanggup menerima kenyataan sepahit apapun karena jiwa imannya, tetapi seandainya kita tidak berdiri dan bergerak dalam rangka mengabdi kepada Allah, mematuhi titah perintah Allah maka penerimaan itu bukanlah kesabaran.

Dalam QS Ali Imran ayat 146, Allah berfirman: “Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.”

Nampak jelas bahwa sabar bukan hanya penerimaan atas kenyataan sepahit apapun, tapi kenyataan pahit yang dideritanya tidak akan membuat ia lemah, putus asa dan berhenti dalam menjalankan amal shaleh. Disini kita menemukan pengertian sabar sebagai PANTANG MENYERAH. *** (waiman)

pernah dimuat dalam MAJALAH AMANU

almukaromah, 25 Maret 2017
Share:

mengentaskan Ghurbah (keterasingan) ISLAM

Pada prinsipnya, Islam itu adalah Idzhar (QS. Al-Fath [48]:28, At-Taubah[9]:33 dan Ash-Shaf[61]:9). Idzhar adalah jelas nampak, berkuasa, menang dan dominan. 

Maka kondisi Islam dan Umat Islam yang berada dalam keadaan Ghurbah (keterasingan) adalah kondisi terpaksa atau tidak ideal. Disinilah Umat Islam yang memiliki komitment akan ke-Islamannya dituntut untuk bekerja keras, Liyudhirohu ‘Alaa diini Kullihi, berjuang memenangkan Islam diatas sistem hidup yang lainnya.

Mengentaskan keterasingan Islam dan kaum Muslimin, melihat sirah nabi Muhammad, adalah dengan tegak berdirinya kekuasaan islam. Maka pengentasan ghurbah Islam adalah dengan memperjuangkan Islam hingga meraih kekuasaannya. Dan teraihnya kekuasaan Islam ini adalah janji Allah SWT yang harus ditebus dengan usaha dan perjuangan. Firman Allah SWT:

وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الأرض كما استخلف الذين من قبلهم وليمكنن لهم دينهم الذي ارتضى لهم وليبدلنهم من بعد خوفهم أمنا يعبدونني لا يشركون بي شيئا ومن كفر بعد ذلك فأولئك هم الفاسقون

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nuur (24) ayat 55).

Tahap awal sebagaimana sabda Nabi (بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا), “Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing”. Dalam tahap awal ini Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya berada di Makkah dalam kondisi Ghurbah, dalam Al-Qur’an (QS Al-Anfal (8) ayat 26), disebutkan 3 cirinya yaitu Qaliel (sedikit), Mustadafien (tertindas), dan Khauf (ketakutan).

Kondisi Ghurbah di Makkah mampu terentaskan setelah Hijrah ke Yatsrib (Madinah), dan setelah di Madinah kondisinya berubah menjadi Ma’wa (memiliki wilayah territorial), Ta’yid (kuat, tidak tertindas) dan Razaqokum (menguasai sumber-sumber ekonomi), lihat QS Al-Anfal (8) ayat 26.

Islam dan kaum muslimin kini di Madinah tidak menjadi terasing atau diasingkan, karena ada kekuasaan yang secara de facto sanggup melindunginya, yaitu Negara Islam madinah. Hanya saja kondisi dominasi Islam baru sebatas kota Madinah, sementara secara nasional di negri Hijaz Islam masih belum dominan.

Perjuangan terus berjalan hingga tahun 8 H, dimana N. Muhammad dan para Sahabat, dengan karunia Allah, berhasil menguasai Negri Hijaz, ditandai dengan Futuh makkah. Setelah Futuh Makkah maka berdiri tegak merdekalah Negara Islam di tanah Hijaz. Dengan teraihnya kekuasaan di tanah Hijaz otomatis kondisi Ghurbah Islam di Hijaz terentaskan. Kekuasaan Islam membuat Islam dan Umat Islam menjadi dominan secara nasional.

Allah SWT dalam Al-Qur’an menyatakan bahwa dengan dikuasainya negri Hijaz oleh Umat Islam, maka terjadilah “Yadkhuluuna Fi Dinillahi Afwajan”, “berbondong-bondong manusia memasuki Dinul Islam”. (QS An-Nashr [110]:2).

Kini Islam dominan dalam tingkat nasional, otomatis terentaskan keterasingan (ghurbah) Islam dalam skala nasional.

Amanah Allah belum berhenti, sebab Umat Islam dituntut untuk mengentaskan keterasingan (ghurbah) Islam secara Internasional. Qur’an secara tegas menggariskan “Liyudhhirohu Alaa Diini Kullihi” (memenangkan Islam atas semua sistem hidup di seluruh dunia), lihat QS Al-fath [48] ayat 28, atau dalam QS. An-Nur [24] ayat 55 adalah “layastakhlifannahum Fil ardhi”, agar Allah mengkaruniai umat islam sehingga berkuasa di muka bumi.

Sepeninggal Rasulullah SAW, kepemimpinan dilanjutkan oleh para khalifah Rasyidah (Abu Bakar, Umar Bin Khatahab, Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib). Dimasa Khalifah Rasyidah Ini kekuasaan Islam berhasil mendominasi Jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir. Dominasi Islam untuk mengentaskan keterasingan (ghurbah) Islam terus berlanjut pada masa khilafah-khilafah sesudahnya hingga dua pertiga dunia dapat dikuasai dan islam menjadi dominan di duapertiga dunia, lenyaplah keterasingan Islam.



Kembali Terasing.

Islam sebagaimana di sabdakan Nabi Muhammad SAW akan kembali menjadi terasing sebagaimana permualaan kemunculannya. Dan itu secara formal terjadi tahun 1924 M dengan runtuhnya khilafah Turki Utsmani. Sabda Rasulullah SAW, “wa sayau'udu gharieban kamaa bada’a",… (“dan akan kembali terasing sebagaimana permulaan”).

Sejak itu hingga kini, kondisi Islam menjadi asing (diasingkan, dipinggirkan) dan Umat Islam otomatis juga terasing (ghurbah). Maka kini Umat Islam harus kembali merintis sebagaimana yang pernah dirintis oleh Rasulullah SAW.

Berbahagialah kelompok Ghuraba’ yang istiqamah dalam keyakinan dan sikap, serta istiqamah dalam perjuangan untuk mengentaskan kembali suasana Ghurbah (keterasingan) Islam. Berbahagialah dan dibahagiakan oleh Allah SWT melalui lisan Rasul-Nya. *** (waiman)

pernah dimuat dalam MAJALAH AMANU

almukaromah, 25 Maret 2017



Share:

Loyalitas selalu Diuji

Dalam perang Ahzab (khandaq) ada dua situasi yang paling ekstrem: Ketakutan dan dinginnya cuaca.

Ketakutan karena Madinah diserang tentara sekutu (Ahzab) yang dipimpin Kafirin Quraisy Makkah. Dikepung dari berbagai arah di luar kota Madinah dan digerogoti dari dalam oleh Yahudi (bani Quraidzhah). Sehingga Umat Islam menerapkan strategi bertahan total dengan membuat parit (khandaq) diseputar Kota Madinah.

Dinginnya cuaca juga cukup menyiksa. Hujan, banjir dan cuaca dingin yang menusuk-nusuk punggung betul-betul menjadi kombinasi yang tajam dalam suasana terboikot dan terkepung tentara sekutu.

Dua situasi ekstrem tersebut sangat dirasakan terutama oleh para petugas Ribath (penjaga perbatasan). Para petugas Ribath harus tetap waspada, mengawasi perbatasan, agar tidak ada satupun dari tentara musuh yang lolos menyusup ke dalam Kota.

Mereka harus berjaga-jaga dan siaga penuh dalam lindungan rasa takut dan dingin. Sampai- sampai mereka pada mengubur setengah badannya dalam pasir untuk menahan rasa dingin.

Pada suatu malam yang sangat gelap dan dingin, mereka mendengar suara kaki berjalan teratur. Mereka telah mengetahui bahwa itu adalah Rasulullah, lelaki yang tetap mobil walau dalam suasana yang tidak bersahabat.

Mereka tetap berjaga-jaga tanpa berkata kata. Terutama setelah keluar perintah: “Adakah salah seorang di antara kalian yang berani melihat kondisi musuh sekarang? Semoga Allah mengumpulkannya denganku pada hari kiamat kelak.”. Rupanya Rasulullah menawarkan tugas patroli ke pertahanan tentara sekutu.

Bukan tugas yang mudah, tetapi tugas yang tinggi resiko. Berjaga-jaga di perbatasan saja sudah perlu keberanian berlipat, apalagi harus menyusup ke pertahanan musuh. Tugas yang hanya bisa diemban oleh Umat yang memiliki Loyalitas yang tinggi.

Loyalitas kini sedang diuji dan butuh pembuktian. Tetapi tidak ada seorangpun sahabat petugas ribath yang menyambut tawaran tersebut. Sampai tiga kali Rasulullah menawarkan tugas tinggi resiko ini, tetapi tetap saja hanya kesunyian yang menjadi jawaban. Akhirnya Rasulullah memanggil seorang dari mereka untuk menjalankan misi berbahaya ini. “Berdirilah wahai Hudzaifah, informasikan kepada kami kondisi musuh (saat ini)” .

Hudzaifah serta merta berdiri dan menjalankan misi berbahaya tersebut. Loyalitas sedang diuji.

Lalu Hudzaifah pun berjalan dengan ekstra hati-hati menuju kamp musuh. Kegelapan malam benar-benar menjadi keuntungan bagi Hudzaifah, sehingga musuh tidak mengenalinya. Bahkan tatkala ia menyusup ke kamp musuh, tak seorangpun dari mereka yang menaruh curiga terhadapnya.

Jalan wajar tapi tetap hati-hati, seakan-akan ia salah seorang dari pasukan musuh. Segera, ia mendapati posisi Abu Sufyan, salah seorang pentolan pasukan musuh, sedang menghangatkan badannya di dekat api unggun. Spontan Hudzaifah menyiapkan panah dan membidiknya, namun niat itu diurungkannya setelah ia sadar bahwa tugasnya adalah mencari berita musuh, bukannya membunuh musuh.

Abu Sufyan nampaknya hendak memberikan suatu briefing penting kepada pasukannya. Namun, untuk berjaga-jaga agar jangan sampai ada mata-mata yang menyelinap, ia mengeluarkan sebuah instruksi cerdik yang tidak diduga sebelumnya oleh Hudzaifah. Abu Sufyan berkata: “Wahai kaum Quraisy, hendaklah setiap orang dari kalian saling mengecek siapa gerangan orang yang ada di dekatnya!”

Mendengar hal itu, Hudzaifah tidak kalah pintar, secara spontan ia pegang tangan orang yang ada di dekatnya seraya bertanya, “Siapa engkau?”. Karena kaget, orang di sampingnya itu langsung menjawab, “Fulan bin fulan!”. Dengan demikian, amanlah posisi Hudzaifah. Tak seorangpun yang mengecek identitas aslinya, karena ia yang terlebih dahulu bertanya sebelum sempat ditanya.

Rupanya briefing itu, untuk menarik mundur pasukan, Abu Sufyan berkata: “ Sungguh, onta-onta kita telah binasa, dan Bani Quraizhahpun telah meninggalkan kita. Ditambah lagi angin kencang yang menghantam kita seperti yang kalian lihat sendiri. Maka sekarang kembalilah (ke Mekah), karena aku akan pergi sekarang!” . Abu Sufyan pun mempelopori mundur dari medan Ahzab, mengakhiri kepungannya kepada umat Islam yang terkurung didalam kota Madinah.

Dengan penuh hati-hati, Hudzaifah bangkit dan kembali menuju markas kaum Muslimin di Madinah untuk menyambaikan berita ini kepada Rasulullah.

Begitu mendengar kabar ini, Rasulullah sangat gembira dan senang. Kemudian beliau mengucapkan puji dan syukur ke Hadirat Allah, atas kabar gembira ini. Dengan mundurnya Abu Sufyan beserta pasukannya itu, berarti selesai sudah penderitaan berat kaum Muslimin dalam menghadapi pasukan sekutu ini .

Hudzaifah ternyata sanggup melawan takut dan mengusir dingin yang menyelimutinya demi melaksanakan tugas intelijen dari Pimpinannya; “Rasulullah”. Hudzaifah lulus menjadi umat yang loyal pada intruksi pimpinannya, mengabaikan keselamatan dirinya, mengusir rasa takut dan mengabaikan rasa dingin yang menusuk nusuk tulang punggungnya. Sungguh loyalitas selalu diuji.*** (waiman)

pernah dimuat dalam MAJALAH AMANU

Almukaromah, 25 Maret 2017
Share:

Jumat, 24 Maret 2017

jangan BERHENTI !!!

Sudah terkenal, kaum Anshar adalah penduduk Madinah (Yatsrib) yang rela berkorban demi kejayaan Islam, sejak Rasulullah dan para sahabat Hijrah ke bumi Yatsrib. Tak terhitung pengorbanan mereka demi kejayaan Islam. Bukan hanya harta, hingga nyawa bukan barang yang mahal untuk dikorbankan.

Hingga suatu saat manakala Negara Islam sudah kokoh berdiri kaki kakinya di Madinah, dan kaum kafir Quraisy sudah mengalami kekalahan psikologis. Terjadi pembicaraan pembicaraan rahasia diantara sebagian mereka (kaum Anshar). Diantara percakapan mereka ada yang berkata: “ bahwa harta benda kita telah habis dan Allah telah mengangkat agama kita menjadi jaya. Maka sekiranya kita mempertahankan harta benda itu, lalu mengganti mana yang telah habis …!”

Pembicaraan mengenai hasrat untuk berhenti sejenak dari berjuang, dan berkorban dijalan Allah ini, terhenti setelah ditegur oleh “kabar langit” yang mengecam rencana mereka. Turunlah QS Al-Baqarah (2) ayat 195.

وأنفقوا في سبيل الله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة وأحسنوا إن الله يحب المحسنين

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”

(( salah satu Asbab Nuzul QS 2/195 berdasar hadits Bukhari dari Hudzifah))


“Jangan Berhenti Berjuang dan berkorban demi Perjuangan”. Itulah pesan kuat yang tersirat dalam QS Al-Baqarah (2) ayat 195 dan Asbab Nuzulnya.

Kaum Anshar yang sudah banyak berkorban demi perjuangan Li’ilai Kalimatillah, terpikir untuk berhenti sejenak, setelah Islam terlihat tanda tanda kejayaannya. Berhenti sejenak untuk kembali, mengumpulkan Harta yang telah terkuras didermakan Fisabilillah. Sungguh mereka tidak berhasrat untuk berhenti selamanya, dan meninggalkan Jalan bakti suci perjuangan, tetapi Allah segera menegur, “dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan!”

Oo-

Bagaimana jika kita berhenti sejenak, keluar dari hiruk pikuk arena perjuangan (Dakwah) karena kejenuhan?, karena kekecewaan?, karena ketidak sabaran? Karena kesibukan mengumpulkan harta? Karena kekurangan ekonomi? Dan karena karena yang lain?. Padahal Islam, dalam pandang kasat mata, belum terlihat tanda tanda kemenangan. Padahal harta dan tenaga kita belum terkuras dalam arena perjuangan ini.

Sungguh berhenti sejenak dan keluar dari arena pacu perjuangan ini adalah membuka pintu kebinasaan, menggali lubang kehancuran dan membenamkan diri dalam kehinaan. Maka rambu ini: “Jangan Berhenti berjuang walau hanya sejenak” harus ditaati, agar lalulintas perjuangan lancar dan tidak macet.**** (waiman)

pernah dimuat dalam MAJALAH AMANU

almukaromah, 25 Maret 2017
Share:

Sabtu, 18 Maret 2017

Alienasi (ghurbah) Islam

 قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Rasulullah bersabda : “Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (al-ghuroba’)”. (HR. Muslim, Baihaqi dll)


DR. Salman Audah dalam bukunya, “Generasi Ghuraba” (terjemahan), mencatat 20 hadits yang semakna dengan hadits diatas. Kemudian beliau berkata: “Hadits ini dari berbagai jalan, baik yang maushul maupun mursal. Hingga dengan adanya beberapa jalan ini menjadikan hadits tersebut menurut para ulama termasuk hadits masyhur ataupun mutawatir”

Mengapa tidak dikenal?

Sebagaimana yang di nubuwahkan oleh Rasulullah SAW, bahwa Islam itu datang dalam kondisi asing (gharieb). Asing itu artinya tidak dikenal, tidak populer, dan tidak dominan.

Untuk menjawab pertanyaan mengapa terasing? Ada baiknya kita simak perjalanan sejarah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS dalam memperjuangkan Islam, dalam firman Allah SWT:

“Kami akan membantumu (Musa AS) dengan saudaramu (Harun AS), dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang”

“Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan (membawa) mukjizat-mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang dibuat-buat dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu”(QS Al-Qashash (28) ayat 35-36).


Seperti masyarakat Mesir, pada saat Fir’aun menjadi rajanya, maka cahaya Allah yang dipancarkan melalui kedua utusan Allah tersebut, menjadi tidak dikenal, mereka mengatakan: “kami belum pernah mendengar seruan yang seperti ini”

Tentu saja bukan terasing dengan sendirinya, tetapi karena ada gerakan alienasi (mengasingkan) dan atau Periferalisasi (meminggirkan) Islam di tengah masyarakat. Dan gerakan tersebut bermuara pada kebijakan penguasa. Penguasa Dzalim pada saat itu, yang dengan sengaja dan sistematis merencanakan untuk memadamkan cahaya Allah tersebut (QS 61/8). Dan hal ini adalah sunnatullah (ketentuan Allah yang pasti).

“Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya”. (QS Al-An’am (6) ayat 123)

Penjahat-penjahat besar itu adalah penguasa yang dzalim yang senantiasa membuat makar (rencana jahat) untuk merintangi dakwah tauhid para Rasul. Hingga Islam menjadi ter alienasi (terasing) di tengah masyarakat.

Para penguasa yang DZALIM itu memiliki agenda besar “Memadamkan cahaya Allah”. Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”. (QS Ash-Shaf (61) ayat 7).

Sunnatullah bahwasanya setiap penguasa akan meminggirkan (mengasingkan) ajaran yang mengancam idiologi kekuasaan, sekaligus melemahkan pembawanya. Hal ini pernah diungkapkan oleh Ratu Saba’ yang diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina”. (QS An-Naml (27) ayat 34).

QS. An-Naml ayat 34 tersebut, memberi pengertian bahwa yang menjadi sasaran pengasingan atau peminggiran penguasa Dzalim bukan hanya konsepsi Islam tetapi juga pengusungnya yaitu Rasul (pemimpin) dan Umat (masyarakat) Islam.

Misalnya N. Muhammad SAW, sebelumnya beliau adalah seorang yang berjasa bagi bangsa Quraisy dan sangat diharapkan oleh Penguasa Hijaz. Buktinya, beliau digelari Al-Amin yaitu orang yang dipercaya untuk memimpin Negara Hijaz dimasa depan.

Tetapi setelah beliau membawa Islam dan memproklamirkannya di tahun ketiga kenabian, serta merta beliau yang sudah banyak berjasa bagi bangsa, malah dianggap sebagai pemecah belah masyarakat, musuh Negara, teroris atau pemberontak. Dan Islam yang dibawanya dianggap sebagai ajaran yang berlawanan dengan idiologi bangsa.

Tentusaja, yang dipinggirkan (diasingkan) adalah konsep Islam yang mengandung ajaran politik (Islam politik), sementara ajaran Islam yang mengajarkan ritual (Islam ritual) dibiarkan, dan Islam yang mengajarkan sosial (Islam sosial) dibantu untuk dibatasi.

Tuntunan Islam tentang hukum, politik, Negara, Jihad Fi Sabilillah, menjadi sasaran pengasingan, sehingga konsep politik Islam dan kenegaraan dianggap asing, bahkan aneh di tengah masyarakat. Sementara tuntunan Islam yang ritual seperti shalat, shaum, dan lain-lain masih dibiarkan tumbuh dan berkembang, walaupun kelak juga di asingkan pada akhirnya. Rasulullah SAW bersabda: “Ikatan Islam akan terlepas satu demi satu. Setiap kali satu ikatan terlepas, manusia akan bergantung pada ikatan berikutnya. Yang pertama kali akan terlepas adalah hukum (ad-daulah) dan yang terakhir adalah shalat”. (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).



Upaya mengalienasi (mengasingkan) Islam

Agenda besar para penguasa Dzalim itu ditindaklanjuti dengan langkah-langkah (Takhtith). Adapun langkah-langkah itu adalah sebagai berikut:

Tahrif (merobah-robah): merubah ubah isi Al-Kitab (wahyu Allah) dari tempatnya semula.

Sami’na wa ashoina (kami dengar tapi kami ingkari); Qur’an dan ajaran Islam didengar, dikaji, dianalisis tapi bukan untuk diamalkan, tetapi untuk diingkari

Wasma Ghairo Musmaien (mendengar tapi tidak mendengar); artinya mengacuhkan, mengabaikan hukum-hukum wahyu dan ajaran ajaran Islam. Islam dan Al-Qur’an tidak dijadikan sebagai sumber hukum tertinggi

Raaina (memutar-mutar lidah); memelintir ayat ayat Allah, untuk menjustifikasi kekuasaan dzalim atau untuk melegalkan kemaksiatan. Artinya menggunakan ayat Allah untuk pembenaran atas rezim tirani atau kejahiliyyahan.

Yaktumuuna ayaat (menyembunyikan ayat-ayat Allah); menyembunyikan Ayat-ayat Allah (ajaran islam) yang mengandung tuntutan politik dan Jihad Fisabilillah.

Talbisul haq bil bathil, mencampuradukan kebenaran dengan kebatilan





Seluruh langkah-langkah pengasingan Islam itu bisa kita lihat dalam QS An-Nisa (4) ayat 44-46, Al-Baqarah (2) ayat 159 dan Al-Baqarah (2) ayat 42. *** (waiman)

pernah dimuat dalam MAJALAH AMANU

almukaromah, 18 Maret 2017
Share:

Minggu, 12 Maret 2017

Tradisi Pertempuran

Pertempuran antara haq dan bathil adalah sebuah kenyataan sejarah yang tak terbantahkan.
Menjadi tradisi yang tidak bisa dihapuskan dalam realitas kehidupan manusia di masa yang akan datang.
Sejak pertama Allah SWT. memproklamirkan kekhalifahan yang diamanahkan (dimandatkan) kepada Nabi Adam AS (QS 2:30), Iblis serta merta dengan kesombongannya (QS 2:34), menyatakan pembangkangan. Iblis tidak mau ‘sujud’ kepada Adam AS. (QS 7:11).
Pembangkangan kepada kekhalifahan ini pada hakikatnya adalah ‘pemberontakan’ kepada otoritas Allah SWT. yang mutlaq, oleh karena itu Allah SWT. langsung memvonis Iblis sebagai “kafir” (QS 2:34), tidak cukup sampai situ,  Allah kemudian mengutuk dan melaknat Iblis, dan mengusirnya dari Jannah (QS 15:34-35).
Inilah latar belakang permusuhan Iblis terhadap “manusia”, tegasnya manusia yang menjalankan fungsi kekhalifahannya. Permusuhan Iblis laknatullah terhadap Khilafah Islam.
Iblis kemudian menabuh genderang perang terhadap kekhalifahan hingga hari akhir. Hal ini dapat kita lihat dari permintaan Iblis kepada Allah SWT. agar diberi waktu hidup hingga hari akhir (QS 15:36). Allah Ar-Rahman, kemudian mengabulkan permohonan Iblis (QS 15:37-38).
Untuk apa iblis rela hidup hingga hari akhir?,  tentu untuk menghalangi dan merintangi manusia agar menyimpang (QS 15:39-40) dari fungsinya yaitu menjalankan, menegakan dan membela kekhalifahan.
Iblis menebar ancaman bahwa dengan segala cara ia akan merintangi tegaknya khilafah;  kiri, kanan, depan dan belakang (QS 7:17). Ini artinya, Iblis akan menghancurkan kekhilafahan, dan akan memerangi kekhalifahan sejak diperjuangkan ketegakkannya.
Bahkan Iblis akan merekrut manusia yang mau mengikuti ‘khithahnya’, dan akan menjadikannya sebagai pasukan perangnya, hingga pada waktunya akan dikerahkan secara sistemik dan totalitas untuk memerangi manusia penegak dan pembela khilafah (QS 17:64-65).
Genderang perang terhadap kekhalifahan yang diikrarkan Iblis, untuk kemudian disambut dengan haru biru oleh para pengikutnya yaitu kaum kafirin (QS 2:217). Sehingga terjadilah pertempuran atau peperangan abadi antara kubu al-haq dan kubu al-bathil diseluruh penjuru dunia ini (QS 4:76). InI yang oleh Allah SWT di gambarkan bahwa nanti para keturunan Adam (manusia) satu sama lain akan saling bermusuhan (QS 2:36).
Dalam realitasnya, perang ini melahirkan pertempuran hebat yang membuat kalah dan menang mejadi dinamika antara yang haq dan bathil (QS 3:140). Tetapi kekalahan yang diderita kubu yang haq itu ada hikmahnya (QS 3:140-141), yakni:
  1. Sebagai ujian dan seleksi keimanan
  2. Peluang syahid
  3. Pembersih dosa
  4. Alasan Allah untuk menghancurkan kaum kafirin
Jadi sebenarnya “Perang” ini ditabuh oleh Iblis dan disambut pengikutnya yaitu “kaum kafirin”. Dan ini adalah sunnatullah Tadafu’ (tradisi pertempuran) yang melestari hingga akhir masa.*** (waiman)
Almukaromah, 12 Maret 2017
Share:

Kamis, 02 Maret 2017

Pesan Kemerdekaan Anbiya

Artinya: "Dan [ingatlah], ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlah ni'mat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dandijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yangbelum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yanglain". (QS 5/20)

Musa AS sebagai Nabi Revolusioner memperingatkan Ummat Islam Bani Israil akan tigahal yang merupakan keharusan sejarah, sejarah untuk meraih kemerdekaan ummatislam dan meraih mardhatillah.

1.HADIRNYA PARA NABI
2.TERAIHNYA KEMERDEKAAN
3.SEMPURNANYA NIKMAT ALLAH


[1] HADIRNYA PARA NABI


Nabi Musa AS mengingatkan Ummatnya akan pentingnya kehadiran para Nabi. Karena para Nabi adalah "pembawa berita besar"  (naba'un adzhiem), yaitu berita besar revolusi. Berita besar perubahan totalitas  itu adalah kabar paling menggegerkan para elitpolitik di suatu negri.


Seperti proklamasi risalah Nabi Muhammad SAW di bukit shofa (tahun ke-3 Nubuwwah) (QS 7/158), berita besar itu langsung mendapat reaksi  negative dari penguasa Negara Hijaz dengan mengeluarkan pernyataan resmi "Tabba Laka Ya Muhammad" (Celaka engkau wahai Muhammad!). Pernyatan itu dikeluarkan langsung oleh pemimpin tertinggi Negara Hijaz yaitu Abu  Lahab (QS Al-lahab). Sebuah pernyataan resmi Negara Hijaz yang menyatakan bahwa Muhammad dan pengikutnya adalah Musuh Negara, bahwa gerakan Muhammad adalahin konstitusional dan makar. 

Seperti reaksi Rezim Fir'aun terhadap Musa AS yang kemudian mengeluarkan pernyataan resmi kenegaraan "Daruuni Aqtul Musa" (Biarkan aku bunuh Musa) (QS 40/26).  Itu terjadi karena Fir'aun ketakutan oleh gerakan perubahan Musa yang langsung melakukan perubahan pada Sistem Hidupnya (Ad-Din).  Ini semua dimulai dengan Proklamasi oleh N Musa dihadapan kaumnya , yaitu proklamasi "Dzahirnya Al-Mulku" (berdirinya kerajaan), yakni kerajaan yang dipimpin Musa AS (QS 40/29)

Setelah berita besar  itu dikumandangkan, maka para Nabi itu kemudian  mengobarkan semangat berperang  kepada ummat (QS 8/65). Yaitu Perang untuk menegakan Din Allah (QS 2/193),perang melawan kekuatan Penjajah ummat manusia (QS 20/24). Jadilah para Nabi sebagai tokoh perubahan yang akan membebaskan manusia dari segala rantai penjajahan yang membelenggu (QS 7/157).

Ummat Islam pasti akan mencapai kemerdekaannya jika mau memuliakannya,menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (AlQur'an) (QS 7/157)

Tentu saja Nabi pada Zamannya kini adalah "Warotsatul  Anbiya" (pewaris jiwa Anbiya) yaitu ulama. Ulama adalah manusia yang hanya takut kepada Allah (QS Fathir: 29). Ulama yang hanya takut kepada Allah SWT dan tidak takut kepada manusia.


Ulama pewaris anbiya adalah pembawa berita besar revolusioner dan pengobar semangat ummat untuk bangkit dan berjuang. Seperti Thalut yang mewarisi semangat revolusioner Nabi Syamil, untuk melawan Penjajah Zaluth (QS 2/243).

Adanya waratsatul anbiya sebagai penggelora semangat Revolusioner dan adanya ummat yang setia mengikuti jalan terjal perjuangan menuju kemerdekaan adalah prasyarat mutlak teraihnya kemerdekaan (QS 7/157)

[2] TERAIHNYA KEMERDEKAAN


Nabi Musa As mengingatkan Ummat Islam Bani Israel bahwa, Kemerdekaan itu bukan hanya terusirnya anasir anasir asing dari suatu negri, tetapi Ummat Islam  yang berdaulat kedalam dan keluar.

Dalam QS 24/55 diistilahkan dengan "Layastakhlifannahum Fil Ardhi" (pasti mereka berdaulat penuh di suatu negri).

Nabi Musa AS bukan hanya hendak membebaskan Bani Israel dari penjajahan Fir'aun, tetapi terbebasnya Bani Israel dari penjajahan Fir'aun akan dijadikan Jembatan Emas menuju Kemerdekaan Ummat Islam, yaitu ummat Islam merdeka berdaulat mengatur negrinya sendiri berdasar (I'tishom) kepada Kitab Allah  (QS 3/103).


[3] SEMPURNANYA NIKMAT ALLAH


NABIMUSA AS juga mengingatkan bahwa kesempurnaan Nikmat Allah SWT hanya akan dapat  dinikmati jika Ummat Islam Sudah berkuasa (MERDEKA).
Nikmatpasca kemerdekaan itu adalah:

(1) Din (hukum) Islam Tegak ,
(2) Ummat Islam Bebas beribadah, bersyariat, atau mengaktualisasikan keislamannya tanpa ada yang menghalangi
(3) Dirubahnya rasa takut menjadi aman sentausa, atau lahirlah suatu kondisi "gemahripah repeh rapih, tata tengtrem kerta raharja", suatu kondisi masyarakat yangadil dan makmur dan diridhai Allah (QS 24/55)**** (waiman)



Almukaromah, 3 maret 2017
Share:

Jalan DAKWAH

Dakwah adalah jalan suci para Rasul, sebab seluruh Rasul Allah membawa misi yang sama yaitu “Dakwah Tauhid”. Firman Allah SWT: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".” [QS Al-Anbiya 21:25].

 Oleh karena itu, berdakwah berarti menapak tilasi tapak lacak para Rasul. Firman Allah: Katakanlah (Hai Muhammad): “Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah (mengajak kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf (12): 108).


Jalan dakwah adalah jalan keberkahan bagi pelakunya (Da’ie) sebab dengan dakwah maka penghuni langit dan bumi akan mendo’akan rahmah dan keselamatan. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.”(HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili).


Rasulullah pernah menyatakan bahwa seseorang mendapat hidayah karena usaha da’ie itu lebih baik bagi dia daripada mendapat “unta merah” (kendaraan terbaik), bahkan lebih baik daripada dunia dan seisinya… subhanallah.  Sabda Rasulullah saw kepada Ali bin Abi Thalib: “Demi Allah, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan (dakwah)mu maka itu lebih bagimu dari unta merah.” (Bukhari, Muslim & Ahmad). Sabda Rasulullah : “Wahai Ali, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya). (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).


Itulah jalan dakwah yang mengundang rahmah dan salam dari Allah SWT. Jalan yang akan menghantarkan ummat kepada predikat “khaira Ummat” (ummat terbaik). Firman Allah: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (Ali Imran (3): 110).”



Semoga kita sanggup dan berani menyambut seruan dakwah ini. Menjadi ummat terbaik yang selamat dari azabnya dan meraih ridha ilahy, dengan dakwah.*** (waiman)

Almukaromah, 3 maret 2017
Share:

DAKWAH; WAJIB & PERLU

Firman Allah Ta’ala:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (( QS 6/125))

Seruan langit kepada insan penghuni bumi adalah:  “serulah (manusia) kepada sabili Rabbik (jalan Tuhanmu)” (QS 6/125).  Seruan suci dan memuliakan seluruh insan  yang menyambutnya sehingga Allah SWT menggelari manusia yang mengorbit (beredar)ditengah tengah masyarakat untuk berdakwah dengan sebutan “KHAIRO UMMAT (Ummat Terbaik)” (QS 3/110) dan juga Allah sebut dengan “AHSANU QAULAN (Ucapan terbaik)” (QS 41/33) .

Rasulullah SAW juga bersabda:

 لِأَنْ يَهْدِيَكَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ مِنْ حُمُرِ النَّعَمِ. (رواه مسلم).

“Sungguh jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui engkau (dakwah engkau) maka itu lebih baik bagimu daripada engkau memiliki onta merah.” (Hadits shahih riwayat Muslim dalam kitab  fadha’il, no. 2406).

Dalam Hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili).

Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 125 yang diawali dengan perintah SERULAH!’. Menunjukan bahwa “menyeru manusia” atau dakwah itu, hukumnya wajib. Karena asal dari perintah menunjukan kepada wajib kecuali kalau ada dalil lain yang memalingkannya.


Kewajiban dakwah ini kena kepada seluruh manusia mukmin (fardlu ain). Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan kepada kita agar menjadi “Ummat” yang selalu berdakwah, dan teruslah berdakwah seperti yang telah Allah perintahkan kepada kita (QS 42/15). Walaupun hanya menyampaikan satu ayat.

Dakwah adalah ajakan atau seruan kepada manusia kejalan Rabb (QS 6/125) agar manusia mengabdi kepada Allah dan menjauhi thaguth (QS 39/17, 16/36) dan agar Din Islam tegak dimuka bumi ini (42/13-15).

Bagaimana jika manusia mukmin mulai meninggalkan amanah dakwah ini?


1. Manusia yang meninggalkan amanah dakwah adalah manusia yang EGOIS. Kalau ia benar hanya ingin benar sendiri, kalau ia baik maka ia hanya ingin baik sendirian.  Padahal Rasulullah SAW mengajarkan agar manusia menjadi manusia social yang mau belajar qur’an dan mengajarkan Qur’an kepada orang lain.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ.

”Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. al-Bukhari dan al-Tirmizi)

2. Manusia yang meninggalkan amanah dakwah adalah manusia DAYUS, yaitu manusia yang enggan melakukan perubahan dan perbaikan sosial. Allah SWT mengancam  Adzab bagi manusia yang berpangku tangan dari keburukan dan kejahatan social tanpa mau berpartisifasi membereskannya dengan gerakan dakwah. Lihat kisah di adzabnya Bani Israel ketika ia diam tidak mengingatkan  masyarakat untuk berhenti menodai hari sabat (QS 7/164-165).

3. manusia yang meninggalkan amanah dakwah adalah manusia terlaknat.Rasulullah saw bersabda, “Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya. Hendaklah kalian benar-benar melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Dan Hendaklah kalian benar-benar mengambil tangan orang yang bodoh dan membawanya kepada kebenaran atau ALLAH benar-benar akan memukul hati sebagian kalian dengan sebagian lainnya, kemudian melaknat kalian sebagaimana ALLAH melaknat mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/161)

4. Mengundang adzab Allah. Dari sahabat Abu Bakar ra, beliau berkata: sesungguhnya kami pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya jika manusia melihat seseorang melakukan kedzaliman, kemudian mereka tidak mencegah orang itu, maka ALLAH akan meratakan adzab kepada mereka semua. (Shahih. HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)


5. Terhalang terkabulnya do’a. Rasulullah bersabda,”Demi Dzat yang diriku di tangan-Nya, hendaknya kalian betul-betul melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar atau (jika kalian tidak melaksanakan hal itu, maka sungguh ALLAH akan mengirimkan kepada kalian siksa-Nya kemudian kalian berdo’a kepada-Nya akan tetapi ALLAH tidak mengabulkan do’a kalian.” (Shahih. HR. Ahmad dan Tirmidzi).

semoga bermanfaat.***** (waiman)
Share: