Tampilkan postingan dengan label Tazkiyyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 April 2017

Tergesa-gesa atau lambat ?

Salah satu sifat yang tercela adalah tergesa-gesa (isti’jal), sebab Rasulullah SAW menyatakan bahwa tergesa-gesa adalah dari Syetan:
التَّأَنيِّ مِنَ اللهِ وَ العُجْلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (HR Baihaqi)

Sifat TERGESA GESA berarti bertindak TIDAK TERATUR, biasanya disesak oleh kemarahan, balas dendam atau kepanikan.   Dan biasanya hasilnya justru bukannya bertambah baik tetapi bertambah buruk. Oleh karena itu bergerak tegesa gesa adalah hembusan syetan sementara bergerak tertib dan teratur adalah dari Allah,.

oo-
Bergerak TERATUR dan TERTIB tidak berarti LAMBAT, bahkan tetap harus dilakukan dengan CEPAT dan BERSEGERA, tepatnya CEPAT dan BERSEGERA dalam menunaikan Tugas Risalah dan Kebajikan.  Firman Allah Ta’ala: Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa. Berkata Musa : Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu ya Rabb-ku supaya Engkau ridha (padaku) (QS. 20: 83-84)
Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang shaleh. (QS 3: 114) ****(wakariem at almukaromah, 11 April 2017)
Share:

Sabtu, 25 Maret 2017

PENGHUNI SURGA

Seperti biasanya, para sahabat mengelilingi Rasulullah demi mendengar nasihat dan pengajaran darinya. Tiba-tiba Rasulullah SAW bersabda: “Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga,”. Pernyataan Rasulullah SAW, benar-benar memancing penasaran para sahabat yang sedang mengelilingi Rasulullah SAW. Siapa gerangan yang dimaksud?.


Tidak berselang lama lewat seorang lelaki Anshar yang baru saja berwudhu, nampak bekas bekas air wudhunya di ujung-ujung janggutnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sendal.

Esok harinya, Rasulullah SAW bersabda: “Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga,” . Kemudian lewatlah pemuda yang sama, persis kejadiannya seperti kemarin. Dan kejadian tersebut berulang sampai tiga kali.

Untuk kali ketiga ini, setelah rasulullah bangkit dan meninggalkan forum, Abdullah Bin Amr Bin Ash, diam-diam mengikuti lelaki yang diisyaratkan oleh Rasulullah sebagai penghuni surga.

Manakala lelaki tersebut sudah dekat dengan rumah pintunya, Abdullah segera menegurnya. Dengan hati hati, Abdullah berkata kepada si laki-laki calon penghuni surga tersebut: “Duhai saudaraku, aku ini sedang bermasalah dengan orangtuaku sendiri, dan aku telah bersumpah untuk tidak pulang ke rumah selama 3 hari, bolehkah aku menumpang tinggal di rumahmu barang 3 hari saja, agar aku bisa memenuhi sumpahku?”. Si Lelaki tersebut menjawab: silahkan!”.

Selama tiga hari, Abdullah tinggal di rumah lelaki tersebut dan meneliti, kiranya apa amalan hebat yang dilakukannya sehingga Rasulullah menyebutnya sebagai penghuni surga?. Tetapi selama itu pula Abdullah tidak menemukan amalan yang istimewa. Malam-malam tidak terlihat oleh Abdullah bahwa lelaki tersebut melaluinya dengan shalat malam. Hanya setiap ia terjaga dari tidurnya, terlihat si lelaki tersebut melafalkan dzikir dan bertakbir. Tapi kenapa lelaki tersebut dikatakan sebagai penghuni surga?. Siang-siang juga dilihat oleh Abdullah tanpa ada amalan yang istimewa, biasa-biasa saja.

Hampir saja Abdullah meremehkan lelaki tersebut. Setelah tiga hari berakhir, Abdullah berkata kepadanya: “Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga,’. Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau. Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?”.

Lelaki itu menjawab: “Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.”.

Abdullah bin Amr berkata: “Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya”.

Rupanya lelaki Anshar itu adalah lelaki sederhana, kehebatannya adalah ia tidak pernah membawa rasa iri, hasud dan kemarahan kedalam malam-malamnya, selalu sirna sebelum ia tertidur. Bukan karena amalannya yang istimewa, tetapi kemampuan menata hati, dan kemahirannya menempatkan amarahnya jauh diluar lubuk hatinya.**** (waiman)

pernah dimuat dalam MAJALAH AMANU

almukaromah, 25 Maret 2017
Share:

Sabtu, 18 Maret 2017

Hasud yang diperbolehkan (Ghibthoh)

Rasulullah SAW bersabda:

 لاَ حَسَدَ إِلاَّ في اثْنَتَيْنِ : رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ القُرْآنَ ، فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاء اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً ، فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ

“Tidak boleh ada hasud (iri) kecuali tentang dua hal: lelaki yang didatangkan oleh Allah Al-Quran (banyak hafalannya) yang kemudian dia shalat pada saat siang dan malam dengan membacanya dan lelaki yang dikaruniai harta yang kemudian dia bersedekah pada saat siang dan malam hari dengan harta tersebut…” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Tercelanya Hasud
.
Hasad atau hasud, yang dalam bahasa Indonesianya adalah iri atau dengki, adalah termasuk perbuatan hati yang tercela. Rasulullah SAW bersabda: "Hati hati kalian dari sifat hasad, karena hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar" (H.R Abu Dawud).

.
Hasud diumpamakan, oleh Rasulullah SAW, seperti Api, yang akan menghanguskan dan menghabiskan kayu bakar. Sementara amal shaleh diumpamakan kayu bakar.  Sebesar dan sebanyak apapun kayu bakar, akan hangus dan habis dilalap api. Artinya sebesar dan sebanyak apapun amal sjaleh akan hapus dan habis terbakar api hasud.
.
Hasud adalah perasaan tidak senang terhadap keadaan yang dimiliki oleh orang lain, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikarunkan Allah kepada sebahagiankamu lebih banyak dari sebahagian yang lain” (Q.S. An-nisa, 4:32).
.
Ibnu Taimiyah berkata:
.
 الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ
.
“Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ Al Fatawa, 10: 111).  Termasuk hasad walau hanya timbulnya perasaan tidak senang atas apa yang dimiliki oleh orang lain.
.
Biasanya sifat iri (dengki) atau ketidak senangan ini, kerap menimbulkan keinginan untuk menghilangkan apa yang dimiliki oleh orang lain tersebut. sebagaimana dalam Kitab Nashoihul Ibad di definisikan bahwa Hasad itu adalah tamanny (keinginan) zawalun ni’mati al ghair (lenyapnya keni’matan yang ada pada diri orang lain).
.
Lihatlah dengki (hasad)nya  saudara-saudaranya N. Yusuf AS terhadap nya. Yusuf AS memiliki ketampanan, kepintaran dan perhatian dari ayahnya yaitu N. Ya’qub AS. Saudara-saudaranya iri terhadap apa yang dimiliki N. Yusuf AS, sampai-sampai tega menjauhkan Yusuf AS dari ayahnya, dan menceburkannya kedalam sumur tua di dalam hutan.
.
Hasud Yang Diperbolehkan
.
Rasulullah SAW, memperbolehkan hasud kepada dua orang;
1. Orang berharta (kaya) dan ia membelanjakan hartanya dijalan kebenaran, dan
2. Orang berilmu (ulama) dan ia mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya kepada yang lain.
.
Para ulama menyebut hasud yang diperbolehkan ini dengan istilah Ghibtoh, untuk membedakan dengan hasud yang terlarang.
.
Ingin seperti sahabat Abdurrahman Bin Auf yang kaya dan dermawan, ingin seperti Abu bakar yang alim (pandai) dan bijak serta mengajarkan ilmunya kepada yang lain, inilah contoh-contoh Ghibtoh.
.
Tentusaja ghibtoh ini berbeda dengan hasud, sebab dalam ghibtoh bukanlah kedengkian tetapi keinginan; dan dalam ghibtoh tidak ada keinginan hilangnya ilmu dan harta dari orang yang diingininya.
.
Bolehkah Ghibtoh kepada selain kedua orang yang diungkapkan Rasulullah SAW diatas?

Pertanyaan tersebut layak dikemukakan, sebab kadang ketika kita melihat orang kaya yang bakhil, tiba-tiba terbersit keinginan seperti dia yang kaya; atau melihat artis liberal dan pendosa yang popular dan dipuja banyak orang, tiba tiba terbit keinginan seperti dia. Atau setidaknya kadang kita mengidolakannya dan dalam hati ada keinginan sepertinya.
.

Tentu saja ini adalah keinginan yang terlarang, simak saja Firman Allah Ta’ala: Lalu Qarun lengkap dengan segala perhiasannya keluar rumah menemui kaumnya. Kala itu orang2 yg menghendaki kehidupan dunia terkagum-kagum dan berkata: moga-moga kita diberi kekayan seperti yang diberikan kepada Qarun, sejatinya ia adalah orang benar-benar mendapat keberuntungan besar (QS. Al Qashas 79)


Ayat 79 surat Al-Qashash adalah menggambarkan pada zaman Nabi Musa, ada seorang yang kaya raya seperti QARUN. Ia senang memamerkan kekayaannya ditengah masyarakat. Sehingga banyak yang terkagum kagum (mengidolakan)nya dan banyak yang menginginkan seperti Qarun yang kaya raya. Sayang, Qarun adalah Konglomerat yang bakhil dan menentang al-Haq (kebenaran), sehingga kekaguman dan keinginan seperti Qarun bukanlah Ghibtoh yang dianjurkan, malah terlarang.



Semoga bermanfaat**** (wakariem)

almukaromah, 18 Maret 2017.
Share:

Rabu, 22 Februari 2017

HATI dan Rayuan Syetan

Sabda Rasulullah SAW: “Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hati dalam diri manusia menjadi raja (pemimpin), sementara, seluruh anggota badan lainya ibarat pasukan yang berada dibawah kendali dan instruksi sang Raja : “HATI”. Oleh karenanya dapatlah dipahami: “jika hati itu jelek maka akan jeleklah amalnya, sebaliknya, jika hati itu baik maka akan baiklah amal seseorang”, semua tergantung hatinya.

Hati dalam diri manusia dilapisi benteng yang kuat yaitu “shudur” (dada), tak ada makhluq [selain dirinya] yang sanggup menembus hati [qalbu]. Serangan dan rayuan syetan hanya sanggup menggedor “shudur” manusia (yuwaswisu fi shuduurin naas / QS 114: 5).

Ibarat kamar, Syetan hanya sanggup menakut nakuti [3:173, 9:13], mengajak [58:19], merayu [15:19], membuat janji-janji [14:22], dan membisikan kejahatan [114:5] kepada manusia diluar dinding kamar / Fi Shuduur. Semua tipuan dan rayuan syetan itu hanyalah suara nyaring diluar kamar. Tetapi, semua tergantung sang penghuni kamar (yaitu hati), apakah ia mau terayu dan terbujuk syetan, atau tidak?.

Syetan, tak pernah sanggup memaksa manusia untuk berbuat jahat, karena syetan hanya sanggup berteriak diluar kamar / fi shuduur. Oleh karena itu jika manusia sibuk dengan keTaqwaan dan senantiasa sabar (menahan diri) untuk tidak terbujuk syetan [3:120], maka “tipudaya” syetan itu adalah lemah [4:76].

Para pemimpin Jahiliyyah dan pengikutnya di yaumul akhir saling berlepas diri; karena para pemimpin jahiliyyah tidak pernah bisa memaksa [2:166-167], keputusan untuk mengikuti Thagut adalah keputusan hatinya sendiri. Karena keputusan sendiri, maka mereka tidak bisa menuntut tanggung jawab kepada para pemimpin mereka, yang ada hanyalah umpatan dan lontaran penyesalan kepada pemimpin mereka [10:88, 33:67].

Allah berfirman: Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk kemudian diantara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: Ya Rabb kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka. Allah berfirman: Masing-masing mendapat (siksaan), yang berlipat ganda akan tetapi kamu tidak mengetahui. (QS. 7:38)

Didalam neraka terjadi perbantah-bantahan antara manusia dengan syetan. Manusia merasa karena ajakan syetanlah, ia bersalah / berdosa . Sementara syetan menyatakan : “saya hanya mengajak, tidak memaksa; hatimulah yang menentukan, mau ikut seruanku atau tidak?”. Syetan mengaku menyesatkan manusia, tetapi untuk tersesat atau tidak, hati manusialah yang menentukan. Oleh karena itu syetan berlepas diri dari manusia yg telah disesatkannya itu [28:63].

Oleh karena itu, baik dan buruknya manusia tergantung hatinya, atau karena hatinya, bukan karena syetan. Syetan hanya membujuk, keputusan “ya” atau “tidak” terhadap bujukannya adalah keputusan hatinya sendiri.

Syetan ada dua: [1] golongan manusia, [2] golongan jin.

Memang syetan dari golongan manusia ini bisa memenjarakan, mengusir bahkan membunuh manusia yang bertaqwa [8:30]. Tetapi siksaan mereka hanya sebatas fisik, dan ajakan mereka sebatas “shudur” (dada manusia).

Ayah dan Ibunya Amr Bin Yasir dibunuh dengan sadis oleh kafirin Bani Makhdum.
Giliran amr Bin Yasir, ia disiksa dan dipaksa murtad. Air, api, cemeti, tonjokan telah banyak mewarnai hari-hari amr bin Yasir. Sehingga pada suatu saat ia berucap “murtad”. Apakah Amr Bin Yasir telah Murtad???

Ternyata tidak; amr Bin Yasir hanya bersiasat (menipu kaum kafir) dengan ucapan murtadnya. Bersiasat agar ia lepas dari siksaan Kaum kafirin dan kembali bebas berjuang menegakan Islam bersama Rasulullah.

Siksaan syetan manusia pada Amr Bin Yasir hanya mengenai tubuhnya dan bujukannya hanya mencapai dadanya (shuduur). Hatinya tetap tentram dalam keimanan [16:106]. Ucapannya adalah terpaksa, darurat, dan hanya menipu kaum Kafiriin.

Hanya Allah yang sanggup membolak-balikan hati manusia, oleh karena itu; peliharalah hati dengan keimanan dan berdoalah kepada Allah agar ditetapkan dalam hati kita dalam Diin Allah dan dalam kebaikan **** (waiman)

Almukaromah 22 Februari 2017.
Share:

Minggu, 19 Februari 2017

DoSa kecil BeruBaH menjadi BESAR

Sebagaimana sudah diketahui, bahwa dosa itu ada dua; dosa besar dan dosa kecil.

Dosa besar adalah perbuatan yang pelakunya diancam dengan ancaman yang keras, baik oleh Allah maupun Rasul-Nya atau yang diancam dengan had (sanksi) berat di dunia. Misalnya mencuri (korupsi), adalah termasuk dosa besar karena diancam dengan Had (hukuman) potong tangan. Atau meninggalkan shalat wajib, adalah termasuk dosa besar karena diancam dengan ancaman keras disamakan dengan orang kafir, dan lain sebagainya. Dan di antara dosa-dosa besar tersebut, Syirik adalah dosa terbesar.

Dosa kecil adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah atau Rasul-Nya walaupun tidak diikuti dengan ancaman keras atau sangsi (had) duniawi.

Walaupun demikian, menurut sebagian ulama, dosa-dosa kecil tersebut bisa berubah menjadi dosa besar jika:

1. Dilakukan terus-menerus

Rasulullah bersabda: “Tidak ada dosa besar jika dihapus dengan istighfar (meminta ampun pada Allah) dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus- menerus.” (HR. Baihaqi).

Hadits ini derajatnya lemah, tetapi maknanya dapat diterima, karena walaupun kecil jika dilakukan terus menerus maka akan menjadi besar pula adanya. Misalnya kesiangan shalat subuh. Sebenarnya tidak ada dosa bagi yang kesiangan shalat subuh, sebab waktu shalat orang yang ketiduran adalah saat ia terjaga. Akan tetapi, jika itu sering terjadi, berarti ada sisi kewaspadaan dan kesigapan yang kendor dalam menjalankan perintah Allah. Jika terjadi terus menerus menjadi kebiasaan, maka sungguh dikhawatirkan berubah menjadi dosa besar.

2. Menganggap remeh perbuatan keliru

Ibnu Mas’ud berkata: “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.”

Misalnya seseorang yang melakukan kesalahan karena lupa atau khilap. Sebenarnya seorang yang melakukan kesalahan secara tidak sengaja tidak akan dicatat sebagai sebuah kesalahan, akan tetapi jika kesalahan tersebut dianggap remeh maka kesalahan tersebut akan berubah menjadi besar. Oleh karena itu seorang shaleh selalu berdo’a agar diampuni jika ia lupa atau tersalah secara tidak sengaja.

Rabbanaa Laa Tuakhidznaa In Nasiina Au Akhto’na”, itulah doa kita jika kita lupa dan terkhilaf, yang artinya: “Duhai Rabb kami, janganlah engkau siksa kami jika kami berbuat salah karena lupa atau terkhilap…”. Doa tersebut terdapat didalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 286.

3. Menceritakan dosa masa lalu yang sudah ditutup Allah

Perbuatan dosa yang lalu yang sudah ditaubati dan sudah ditutup oleh Allah aibnya dari pandangan dan pengetahuan manusia, akan tetap menjadi dosa besar, jika ia menceritakan kembali kepada orang lain. kecuali jika manfaatnya besar dalam rangka menarik pelajaran, itupun adalah jalan terakhir. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan jahr (pamer). Di antara bentuk melakukan jahr adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya –padahal telah Allah tutupi-, ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Merasa bangga dengan perbuatan dosa

Dosa adalah perbuatan yang memalukan dan wajib ditaubati, dan di antara syarat taubat adalah menyesal. Jika seseorang melakukan dosa kemudian dia ceritakan dosa tersebut kepada orang lain dengan bangga, maka hilanglah rasa penyesalannya, dan sirna rasa malunya. Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. 24:19).

Atau melakukan perbuatan dosa, walaupun kecil, jika dilakukan dengan bangga maka akan tertutup baginya jalan untuk bertaubat, oleh karena itu dosa tersebut akan berubah menjadi dosa besar.

5. Dilakukan oleh publik figur dengan terang-terangan

Dosa yang dilakukan oleh orang yang menjadi panutan, baik resmi maupun tidak resmi, berpeluang diikuti oleh orang lain. Misalnya pemimpin, ayah, kakak, guru, dan publik figur lainya. 

Jangankan perbuatan; gaya rambut, berpakaian cara bicara saja, sadar tidak sadar akan dilihat dan ditiru oleh orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membuat dalam Islam tradisi yang buruk, maka dibebankan kepadanya dosa yang buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR. Muslim dan Ahmad)

Semoga bermanfaat dan menjadi waspada**** (waiman)

Almukaromah, 20 Februari 2017
Share:

Sabtu, 18 Februari 2017

Ragam hati

Hati ibarat raja, Raja dalam sistem diri manusia. Baik dan buruknya manusia sangat dipengaruhi oleh kualitas hatinya. Jika hatinya baik akan baik pula seluruh sistem dirinya, namun jika buruk, buruk pula sistem dirinya.


Berdasarkan petunjuk QS Al-Baqarah ayat 1-20, hati manusia itu terbagi kepada 3 macam kualitas hati. Pertama: Hati yang bersih (Qalbun salim), Kedua: Hati yang Mati (Qalbun Mayyit), Ketiga: hati yang berpenyakit (Qalbun Mariedl).


Qalbun Salim (Hati yang hidup dan sehat)

Qalbun Salim adalah kualitas hati yang hidup dan sehat (tidak berpenyakit hati). Qalbun salim ini milik orang yang beriman dan bertaqwa.

Pemilik Qalbun Salim pasti memiliki jiwa yang sensitif, mudah tergugah jika disebut’ nama Allah (QS. Al-Anfal ayat 2). Karena jiwanya yang sensitif jika disebut nama Allah inilah, yang menyebabkan dirinya ridha diatur dengan aturan dan undang undang Allah SWT, yaitu Al-Qur’an (QS Al-Baqarah ayat 2)

Karena jiwanya dipenuhi Cahaya terang Ilahi, maka jiwanya selalu penuh dengan cinta dan ma’rifat kepada Allah, Taqwa dan tawakkal dalam menempuh karya terbaiknya, optimis dalam menjalani hidup. Selalu syukur ketika mendapat nikmat, dan sabar dalam menerima musibah. Pandai mengatur waktu , husnudzhan kepada Allah dan lain-lainya.


Qalbun Mayyit (Hati yang Mati)

Qalbun Mayyitun adalah kualitas hati yang mati, kaku keras seperti batu. Sejatinya Qalbun Mayyitun ini dimiliki oleh orang kafir, tetapi bisa saja hinggap kepada kaum mukminin.

Pemilik Qalbun Mayyit ini telah dikunci mati hatinya oleh Allah. Sehingga sudah tidak sanggup lagi menerima peringatan-peringatan wahyu (QS Al-Baqarah ayat 6-7)

Qalbun mayyit ini telah membuat pemiliknya menjadi bebal, Dinasehati dengan Qur’an atau tidak tetap tidak berubah. Jiwanya sudah tidak takut lagi dengan peringatan Al-Qur’an dengan neraka dan tidak tertarik lagi dengan kabar gembira surga. Seringkali seruan Allah kepada mereka tidak membuat tergetar jiwanya, mereka kerap cuek dengan segala peringatan dan seruan Allah SWT, lihat juga QS Al-An’am ayat 25, dan QS Fushilat ayat 5.


Qalbun Mariedl (Hati yang Berpenyakit)

Qalbun Maridl adalah kualitas hati yang penuh penyakit. Sejatinya Qalbun Mariedl ini dimiliki oleh orang Munafiq, tetapi bisa saja hinggap kepada kaum mukminin.

Sifat sifat pemilik Qalbun Maridl ini diumpamakan Allah seperti dalam QS Al-Baqarah ayat 17.

Al-Qur’an (hukum Allah) diibaratkan api dikegelapan, sejatinya api itu akan menerangi jalan tetapi yang terjadi malah menerangi dirinya. Sebagai gambaran manusia yang tidak menerima hukum Ilahi secara murni dan konsekwen, ia hanya ingin menjalankan aturan ilahi (Qur’an) sebagian saja; yaitu yang kira kira dapat menerangi dirinya. Menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai media mencari kekayaan dan popularitas atau bahkan kedudukan tinggi. Maka Allah menggambarkan bahwa api yang dinyalakan dikegelapan itu dipadamkan cahanya, kini tinggal sifat api yang akan membakar dan mengahnguskan si pemilik hati yang berpenyakit.

Sifat sifat pemilik Qalbun Maridl ini juga diumpamakan Allah seperti dalam QS Al-Baqarah ayat 18.

Air hujan yang sejatinya menyegarkan dan menumbuhkan tetapi malah menjadi hujan lebat yang menghancurkan dan membinasakan. Semua itu terjadi karena sipemilik hati yang berpenyakit tidak mau menerima keseluruhan hukum Allah dalam Al-Qur’an.

Diibaratkan dalam kelebatan hujan yang menggelapkan suasana ada suara petir dan cahaya kilat. Pemilik hati yang berpenyakit menjadikan Al-Qur’an sebagai objek penelitian bukan sumber petunjuk hidup. Ia meneliti mana yang menguntungkan seperti cahaya kilat dikegelapan dan mana yang merugikan seperti gelegar petir yang menakutkan. Jika cahaya kilat datang ia baru mau berjalan tapi jika gelegar petir yang menakutkan tiba ia tutup rapat-rapat telinganya.

Marilah perhatikan Firman Allah: “Apakah kamu beriman kepada sebagian dari Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah (2) ayat 85)

Pemilik hati mariedl adalah tipe orang yang pragmatis oportunis. Mereka mau menerima Qur’an selama menguntungkan tujuan bisnis atau keserakahan politiknya, tidak menjalankan Qur’an secara murni dan konsekwen. Tidak mau menegakan hukum-hukum Al-Qur’an dalam segala aspek.****  (waiman)

Almukaromah, 19 Februari 2017
Share:

Kamis, 16 Februari 2017

Penjagal Yang Bertobat

Firman Allah Ta'ala: "Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar [39] : 53)

Allah Maha Pengampun (Ghafur) lagi Maha Penyayang (Rahiem), kepada hamba-hambaNya yang berdosa besar sebesar apapun kesalahannya. Allah Ta'ala pasti menerima permohonan ampunan hambaNya, selama hambaNya memohon ampunan dengan optimis akan kasih sayang Allah ta'ala. 

Membunuh tanpa alasan yang dibenarkan adalah termasuk Kabaair (dosa besar setelah syirik); akan tetapi sebesar dosa membunuh pun, Allah tetap Maha penampun dan Maha Kasih Sayang. Ada pelajaran berharga tentang kisah sang penjagal yang bertobat, yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi RA. Kisah adalah sebagai berikut:

“Dahulu sebelum kalian, ada seorang (dari bani Israil) yang telah membunuh 99 jiwa. Kemudian ia bertanya : “siapa yang paling tahu tentang agama yang ada di dunia ini”. Lalu ditunjukkan kepadanya seorang rahib (ahli ibadah). Ia pun mendatanginya dan menjelaskan, bahwa dirinya telah membunuh 99 jiwa: “apakah ada kesempatan untuk taubat bagi dirinya? “ Rahib itu menjawab, “Tidak.” Akhirnya ia membunuh rahib itu sekalian, sehingga lengkaplah 100 jiwa yang telah melayang di tangannya. “
Kemudian ia kembali bertanya tentang orang yang paling tahu agama yang ada di dunia ini. Lalu ia ditunjukkan kepada seorang yang alim (berilmu). Orang itu bercerita, bahwasanya ia telah menebas 100 jiwa, “apakah ada kesempatan untuk taubat bagi dirinya? “ Seorang alim itu menjawab, “Ya, ada, siapa yang menghalangi dirimu untuk bertaubat? Pergilah engkau ke kampung ini, karena sesungguhya di sana ada sekelompok manusia yang beribadah hanya kepada Allah semata, beribadahlah kepada Allah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali ke kampungmu yang dulu, karena kampung itu adalah kampung yang buruk.“ 
Lalu ia pun pergi merantau meninggalkan kampung halamannya. Tatkala sampai di tengah perjalanan, ternyata kematian datang menjemputnya. Kemudian malaikat rahmat dan malaikat azab berseteru tentang status orang ini.
Malaikat rahmat berkata: “Dia datang dalam keadaan bertaubat kepada Allah seraya menghadapkan hatinya kepada-Nya.”. Malaikat azab berkata: “Sesungguhnya ia belum pernah mengerjakan kebaikan sama sekali.”.
Kemudian datanglah malaikat yang berwujud manusia, lalu ia dijadikan sebagai hakim (pemutus perkara) di antara mereka berdua. Malaikat yang berwujud manusia itu berkata: “Ukurlah jarak antara dua kampung tersebut. Ke arah mana ia lebih dekat, maka berarti ia lebih berhak di masukkan ke sana.”
Lalu mereka mengukurnya dan mendapati orang itu lebih dekat kepada kampung tujuan. Akhirnya ia dibawa oleh malaikat rahmat. (cerita diatas berdasar Hadits Rasulullah dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim) Cerita yang bersumber dari Hadits Rasulullah tersebut memberi hikmah betapa terbukanya pintu Taubat, sampai-sampai sang jagal yang membunuh 100 orang juga masih memiliki peluang diterima taubatnya.
Rosululloh SAW bersabda: “Alloh Ta’ala berfirman, :‘…Hai anak Adam, sungguh seandainya kamu datang menghadapKu dengan membawa dosa sepenuh bumi, dan kau datang tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatupun. Sungguh Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula’.”(HR. Tirmidzi)

Rasulullah juga pernah bersabda bahwa setiap manusia pasti bersalah dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang mau bertaubat. Memohon ampunlah kepada Allah atas segala kesalahan yang pernah dilakukan, jangan pernah berputus asa dari kasih sayang Ilahy, masih ada waktu selama nyawa belum sampai di kerongkongan. kasih sayang dan ampunan Allah Ta'ala lebih besar daripada dosa yang dilakukan hambaNya*** (waiman)

almukaromah, 17 Februari 2017
Share:

Kamis, 26 Januari 2017

Penyakit Suka Pamer

Amal shaleh itu bukan barang pameran, bukan untuk dipertontonkan; bukan untuk mencari riuhnya tepukan dan ramainya pujian. Amal shaleh tidak usah menuntut disematkannya lencana bintang penghargaan tanda ia telah berjasa.

Sifat suka pamer, dan mencari ketenaran dalam beramal shaleh, adalah penyakit berbahaya, yang paling ditakuti Rasulullah terjangkit dalam diri seorang mukmin, bahayanya melebihi bahaya Dajjal. Dalam terminology Islam sifat suka pamer ini adalah Riya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatau yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al masih Ad Dajjal? Para sahabat berkata, “Tentu saja”. Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika sesorang berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya “ (HR AHMAD)

Rasulullah SAW bersabda: “ Sesuatu yang aku khawatrikan menimpa kalian adalah perbuatan syirik asghar. Ketika beliau ditanya tentang maksudnya, beliau menjawab: ‘(contohnya) adalah riya’ ” (HR Ahmad & Thabrani)

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fathul Baari berkata: “Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu”. 

Imam Al-Ghazali, riya’ adalah mencari kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan. 

Tegasnya Riya itu beramal tidak Ikhlash, tetapi motivasinya adalah agar dipuji atau mengharapkan penghargaan manusia. Sementara Ikhslash adalah beramal hanya dengan niat lurus karena Allah, karena diperintah Allah, karena ingin mendapatkan ridha Allah, Lillahi Ta’ala.

Riya’ dibagi kedalam dua tingkatan: 

riya’ kholish yaitu melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia, 

riya’ syirik yaitu melakukan perbuatan karena niat menjalankan perintah Allah, dan juga karena untuk mendapatkan pujian dari manusia, dan keduanya bercampur”. 


Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah mengumumkan bathalnya atau terhapusnya pahala amalan yang tercampur Riya, shalat, sedekah dan lainya akan menjadi sia-sia tek berarti.

“Janganlah kalian menghilangkan pahala shadaqah kalian dengan menyebut-nyebutnya atau menyakiti (perasaan si penerima) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak berimana kepada Allah dan hari kemudian.” (Al-Baqarah: 264) 

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya” (Al Maa’uun 4-6) 

Bukan hanya itu saja, Rasulullah bersabda: “Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya.” (HR. Bukhari) 

Maksudnya batangsiapa yang sum’ah (suka tenar), maka Allah akan perdengarkan aibnya kepada orang lain; dan barangsiapa yang Riya (suka pamer), maka Allah akan tampakan aibnya kepada orang lain.

Mudah-mudahan waspada dan terhindar dari penyakit ini…amien. cag. (wakariem)

Almukaromah, 26 Agustus 2017.
Share: