Tampilkan postingan dengan label DOA & DZIKIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DOA & DZIKIR. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 April 2017

Memohon keteguhan hati

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا
 وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةً‌ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ


Rabbanaa Laa Tuzig Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa
Wahab Lanaa Min ladunka Rahmatan Innaka Antal Wahhab

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau palingkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah rahmat dari sisi-Mu kepada kami, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”

Ini adalah sepenggal permohonan yang selalu dirapalkan hamba-hamba Allah yang khawatir nikmat terbesar yang diberikan Allah tercabut dari hatinya, yaitu nikmat hidayah keimanan dan keislaman. Permohonan ini terdapat di dalam QS. Ali Imran (3) ayat 8.

Qalbu yang dalam bahasa Indonesianya diartikan hati, memiliki dua pengertian: (1) pengertian fisik, dan (2) pengertian ruhani.

Dalam pengertian fisik, qalbu adalah segumpal daging atau organ yang sarat dengan otot yang fungsinya menghisap dan memompa darah, terletak di tengah dada agak miring ke kiri, ini identik dengan Jantung. Dalam pengertian fisik ini, maka pengertian Qalbu (hati) bersifat tangible alias dapat dilihat. Seperti yang disabdakan Nabi SAW.: “Di dalam tubuh itu ada segumpal daging; yang apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh itu. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.”

Sementara dalam pengertian ruhani, qalbu (hati) ini adalah potensi ruhani yang mengendalikan sikap dan tindak manusia. Hatilah yang memerintahkan anggota badan lahir seperti kaki, tangan, mata dan lainya. Hati juga yang memerintahkan fungsi-fungsi ruhani lainya seperti aqal dan juga nafsu. Dalam pengertian ruhani inilah, maka pengertian Qalbu (hati) bersifat intangible alias tidak dapat dilihat.

Hati (qalbu) dalam pengertian Ruhani ini tidak bersifat tetap, sering berubah ubah, dan itulah karakter hati. Kadang hati itu berada dalam keadaan hidup dan selamat dari penyakit hati (Qalbun Salim). Kadang terserang virus syahwat dan cinta dunia sehingga hati ada dalam keadaan sakit (Qalbun Mariedl). Bahkan kadang terserang oleh virus yang lebih berbahaya yaitu virus kemunafikan, syirik dan kufur, sehingga hati terkapar mati (Qalbun Mayyit).

Bolak baliknya hati ini, digambarkan oleh Rasulullah dalam sabdanya: “Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Ahmad)

Karakter hati yang kerap bolak balik ini, tidak akan ada yang bisa menjinakkannya, kecuali Dzat Muqalibal Qalbu (pembolak balik hati), yaitu Allah SWT. Oleh karena itu para pengabdi yang shaleh, yang benar-benar memahami karakter hati ini akan memohon kepada Allah, agar ditetapkan hatinya dalam keadaan Qalbun Salim (Hati yang Hidup dan selamat dari penyakit hati).

Selain dalam Al-Qur’an, ada juga do’a untuk memohon ketetapan hati ini yang bersumber dari hadits Rasulullah SAW riwayat Tirmidzi R.A., yang berbunyi: “Yaa Muqallibal Quluubi, Tsabbit Qalbi ‘alaa Diinika”, artinya : “Duhai Dzat yang membolak balikan hati, tetapkanlah hatiku pada Dien (agama) mu”. (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Hakim).

Hati yang hidup karena dihidupkan oleh Hidayah dari Allah yaitu Tauhid, akan membuahkan ma’rifah, cinta, ridha, ikhlash, khusyu dalam beribadah. Hati yang selamat dan bersih dari pengaruh virus–virus hati berupa syahwat dan cinta dunia akan menghambat bahkan menghalangi tumbuhnya penyakit-penyakit hati seperti hasad, riya, ujub, takabbur dan lain-lain. Hati yang hidup dan terbebas dari penyakit hati inilah yang sering diistilahkan dengan Qalbun Salim. Ini pulalah hati yang ingin ditetapkan oleh Allah dalam diri-diri setiap para pengabdi.

Wallahu A’lam Bishowab

(waiman at almukaromah, 13 April 2017)


Share:

Minggu, 12 Maret 2017

Dzikir Meringankaan Pekerjaan Rumah

Fatimah Az-Zahra RA adalah puteri Rasulullah SAW, yang menikah dengan Ali Bin Abi Thalib RA. Melalui suaminya, Fatimah RA mengeluhkan beratnya beban rumah tangga kepada Rasulullah. Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Rasulullah : “Fatimah mengeluhkan tangannya yang kasar karena setiap hari harus menggiling gandum dengan alat penggilingan gandum, Dan setiap hari mengangkut air dengan alat pengangkut yang diselendangkan sehingga membekas tali pengangkutnya di dadanya”.
Kemudian Ali Bin Abi Thalib mengajukan permohonannya kepada Rasulullah, agar diberikan kepadanya seorang pembantu rumah tangga. Permohonan itu tentu saja untuk meringankan beban berat Fatimah RA, puteri Rasulullah SAW sendiri, dalam mengurus urusan rumah tangganya.
Sehari sebelumnya Fatimah RA mendatangi bapaknya Muhammad SAW, tetapi mengurungkan permohonannya. Dan ketika Fatimah datang ke rumah bapaknya sendiri,  Rasulullah bertanya: “apa keperluanmu duhai Fatimah?”, Fatimah RA menjawab: “aku datang hanya untuk memberi salam kepadamu duhai Rasulullah!”.
Rasa malu Fatimah RA begitu tinggi untuk memohon bantuan kepada ayahnya sendiri, sehingga permohonan itu disampaikan oleh Ali Bin Abi Thalib. Walau dalam riwayat lainnya dikatakan bahwa kedatangan Fatimah sehari sebelumnya tidak berhasil bertemu dengan Rasulullah.
Menanggapi permohonan anak dan juga menantunya tersebut Rasulullah SAW bersabda kepada mereka:  “Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka bacalah ALLAHU AKBAR tiga puluh tiga kali, SUBHANALLAH tiga puluh tiga kali, dan ALHAMDULILLAH tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”.  (Kisah ini bersumber dari hadits yang diriwayatkan oleh  Bukhari dan Muslim).
Seorang wanita dalam menjalankan fungsinya sebagai istri didalam rumah tangga tentu akan menghadapi pekerjaan yang tidak dapat disebut enteng. Mulai dari mencuci, membersihkan rumah, mengasuh anak-anak, memasak, melayani suami, mengelola keuangan sehari-hari, menjaga rumah dan lain lain.  Jika kita pikirkan berbagai profesi disandang istri, mulai dari Binatu, pembantu rumah tangga, baby siter, koki, akuntan bahkan hingga menjadi satpam. Lebih dari itu, jam kerjanya 24 jam sehari 7 hari seminggu, non stop tanpa ada hari libur.
Sangat logis jika suami bekerja mencari rezeki dan berpikir untuk meringankan beban pekerjaan harian istrinya, mencarikan pembantu atau pelayan rumah tangga. Suami berusaha memberi yang terbaik bagi istrinya. Akan tetapi, belum tentu semua orang yang bernama suami mampu untuk membayar pembantu rumah tangga, sebab rezeki setiap orang berbeda-beda.
Disinilah seorang istri dituntut mampu menerima kenyataan suami apa adanya. Harmoni dalam rumah tangga akan terwujud jika dalam jiwa suami terdapat keinginan memberi yang terbaik dan dalam jiwa istri terdapat penerimaan atas keadaan suaminya apa adanya, karena Allah semata.
Seperti apa yang menimpa kepada Fatimah RA, puteri Rasulullah SAW. Rasulullah mengingatkan agar Fatimah RA;

  1. Membaca Allahu Akbar , bahwa Allah yang Maha Besar, sesungguhnya pekerjaan rumah sesulit apapun adalah enteng dan kenyataan itu sepahit apapun adalah ringan .
  2. Membaca Subhanallah, Maha Suci Allah, sesungguhnya sepadat apapun pekerjaan seorang istri adalah mulia karena ia hendak mensucikan Tuhannya, bukan untuk mencari kesenangan semata, tetapi hanya satu yang hendak diraih yaitu Ridha-Nya, yang kelak berbalas kesenangan abadi di surga.
  3. Membaca Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah, sesungguhnya apapun realitas yang dihadapi adalah pemberian terbaik dari Allah Ta’ala.
Dan ketiga kalimah yang baik itu hendaklah dibaca setiap menjelang tidur, sambil menikmati kelelahan siang dalam menuntaskan pekerjaan dalam rumah tangga. Insya Allah, itu lebih baik daripada menuntut pembantu yang belum tentu suami sanggup memenuhinya. **** wallahu a’lam bishshowab*** (waiman)
pernah dimuat dalam MAJALAH AMANU
Almukaromah, 12 Maret 2017
Share:

Kamis, 09 Februari 2017

Memohon Anak yang Shalih

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Rabbi Hablii Minas Shaalihiin

" Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh" (QS. Ash-Shaffat: 100)


Do'a ini adalah redaksi do'a Nabiyullah Ibrahim AS, yang memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak yang shaleh. Sudah menjadi tabi'at manusia untuk mengidamkan keturunan yang shaleh. Apalagi Ibrahim AS sampai usia senja belum juga dikaruniai seorang anakpun. 

Sarah ra,  Istri pertama Nabi Ibrahim, kemudian menganjurkan agar Ibrahim menikahi siti Hajar yang merupakan pembantu keluarganya sendiri. Maka Ibrahim ra menikahi Hajar. Tak berselang lama setelah pernikahannya dengan Siti Hajar, Ibrahim digembirakan dengan firman Allah: "Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." (QS Ash-Shaffat (37) ayat 101). 

Kabar gembira yang merupakan jawaban ijabah do'anya setelah bertahun-tahun tanpa pernah bosan berdo'a : " Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh" (QS. Ash-Shaffat: 100)**** (wakariem)

semoga bermanfaat.

almukaromah, 9 Februari 2017
Share:

Dzikir "Istighfar"; Mensirnakan Kesulitan

لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Laa Ilaaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Minadz Dzalimiin 

“Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk dalam golongan orang-orang yang dhalim…!”
(QS. Al-Anbiya’/ 21: 87)

Nabiyullah Yunus AS adalah Nabi yang diutus Allah untuk menegakan Risalah di negeri Ninawa di Mosul (Iraq). Bertahun tahun beliau berdakwah dengan berbagai cara dan upaya, tetapi kebanyakan bangsa Mosul ini malah membantah dan mempermainkan Yunus AS. Hingga pada suatu saat beliau terhinggapi penyakit patah semangat, jengkel melihat kejahiliyyahan bangsanya.

Yunus As kemudian pergi meninggalkan bangsanya dalam keadaan MARAH. Qur’an merekamnya dengan redaksi : “Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah” (QS 21/87).

Ini adalah kesalahan yang dilakukan oleh Yunus AS. Pergi meninggalkan bangsanya sendiri dalam keadaan Jahiliyyah. Padahal mendakwahi mereka itu adalah tugas suci beliau. Meninggalkan bangsanya bagi Yunus, berarti meninggalkan wilayah dan objek tugasnya, singkatnya mangkir dari tugas.

Sekilas Yunus mengira bahwa itu adalah wajar, karena ia telah diskiti dan didzalimi bangsanya karena tugas suci yang dipikulnya.

Kemudian ia pergi meninggalkan bangsanya menuju pulau lain dengan menaiki kapal laut. “Ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan". (Q.S. 37/ 140)

Tetapi Allah Ar-Rahman menegur tindakan Yunus As tersebut, dengan memberi kesulitan / musibah. “lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya)", (QS 21/87).

Kadang kadang musibah/ kesulitan itu adalah TEGURAN, jika mengenai hamba Allah yang shaleh; harapanya dengan teguran itu ia mau sadar akan kesalahannya dan kembali bertaubat kepada Allah SWT . Firman Allah SWT : “Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang shaleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS 7/168)
Bahkan dengan kesalahan yang diperbuatnya, jika ia mau bertaubat, bukanlah keburukan baginya tetapi kebaikan dan keberuntungan baginya, firman Allah: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. An-Nur 31)
Ibnu athailah berkata: LEBIH BAIK MAKSIAT (DOSA) YANG MENIMBULKAN RASA RENDAH DIRI dan RASA MEMBUTUHKAN RAHMAT ALLAH,,,, DARIPADA PERBUATAN TAAT YANG MEMBANGKITKAN RASA SOMBONG , DAN RASA BANGGA DIRI [kutipan Al-Hikam]

Kesulitan apa yang diderita Yunus AS, sebagai teguran kasih sayang Allah kepadanya?. Jawabanya adalah dimakan Ikan besar; “Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. “ (QS 37/142). Dan tinggal dalam perut ikan dalam keadaan gelap dan sesak, seperti gelapnya kaum Yunus yang ditinggalkan oleh Yunus AS.

Segeralah Yunus AS introspeksi diri, bahwa ini adalah TEGURAN dari Allah SWT karena kejengkelannya kepada bangsanya yang menolak dAKWAH TAUHID menyebabkan ia kehilangan KESABARAN. Maka Yunus AS berdzikir dengan redaksi kalimat Dzikir: Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadh dhaalimiin

Firman Allah SWT: “maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS 21/87).

Dzikir inilah yang menjadi washilah, Allah mensirnakan kesulitan Yunus AS, dalam gelapnya perut ikan besar sekaligus menyelamatkan nyawa YUNUS AS terancam mati dalam kehinaan.

Firman Allah SWT: “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS 37/143-144)

Yunus AS dimuntahkan dari perut ikan di pantai tandus. Firman Allah : “Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.” (QS 37/145)

Keluarlah Nabi YUNUS AS dari segala kesulitannya selama ini, dan setelah pulih dari sakitnya, ia kembali menunaikan tugas sucinya BERDAKWAh. Ini adalah bentuk Taubatnya YUNUS AS.

Oo


Dzikir Nabiyullah Yunus AS ini adalah dzikir yang memiliki faedah untuk mensirnakan kesulitan kesulitan besar dalam hidup, sehingga do’a orang yang berdzikir dengan dzikir Nabiyullah Yunus termasuk do’a yang mustajab

Hal ini pernah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ
قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah: LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya). Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya.”

(HR. Tirmidzi no. 3505. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).**** (waiman)

semoga bermanfaat.

almukaromah, 9 Februari 2017
Share: