Tampilkan postingan dengan label HikmAh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HikmAh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 April 2017

Laa Tahzan: Allah beserta Kita !

Suasana di kota Makkah saat itu betul-betul mencekam. Menciutkan nyali siapa saja yang berkalung takut dan bersorban galau.

Penyebabnya adalah, karena Negara Hijaz melalui parlemen Daarun Nadwah-nya telah mengeluarkan ketetapan “bunuh Muhammad !”. Ketetapan yang tegas dan tidak membutuhkan interpretasi itu, diterjemahkan oleh pemerintahan negara Hijaz dengan mengirim para pemuda-pemuda dari berbagai kabilah untuk mengeksekusi Muhammad SAW.

Pengepungan pun dilaksanakan oleh para pemuda tersebut, mereka bersiaga diseputar rumah Rasulullah SAW untuk menangkap atau sekaligus membunuh beliau. Hanya saja Rasulullah SAW beserta Ali Bin Abi Thalib membuat siasat cerdas, dan dengan pertolongan Allah, akhirnya beliau mampu meloloskan diri dari kepungan para penjagal tersebut. Kemudian beliau meneruskan rencananya untuk Hijrah ke kota yatsrib (madinah).

Pemerintah negara Hijaz dibuat geram dengan berita lolosnya Rasulullah dari kepungan para algojo terpilih mereka. Pemerintah negara Hijaz akhirnya menerbitkan pengumuman sekaligus menetapkan Muhammad SAW sebagai buronan negara yang paling dicari. Pengumuman tersebut berisi sayembara: “Barangsiapa yang berhasil membunuh Muhammad, maka akan dihadiahi seratus ekor unta”. Harga seratus ekor unta kira- kira jika dirupiahkan sekarang adalah sekitar 3 milar rupiah.

Sontak saja, bukan hanya penduduk Makkah yang tergiur, dengan imbalan pembunuhan Muhammad SAW, tetapi juga seluruh penduduk di semenanjung Arab berlomba-lomba untuk mengeksekusi Muhammad SAW.

Oo-

Setelah menyusuri jalan yang tidak umum menuju Yatsrib, Rasulullah yang ditemani dalam perjalanan hijrahnya oleh Abu Bakar, memilih berhenti selama tiga hari di Gua Tsur. Gua yang sempit dan sedikit pengap, untuk memantau pergerakan para pemburunya. Benar – benar perjalanan yang sukar dan sarat resiko, dibutuhkan segala taktik cerdik yang menguras energy dan pikiran.

Selama 3 hari, para pemburu yang berhamburan menyelidiki seluruh tempat baik rumah, gedung, jalanan, lembah, gunung dan gua gua tidak lepas dari pantauan para pemburu.

Tibalah saatnya sebagian pemburu, yang tergiur hadiah tersebut, sampai juga di mulut Gua Tsur. Pedang-pedang sudah keluar dari sarangnya, tombak-tombak dipasang dalam kondisi siap tancap, dan anak-anak panah sudah bersarang dibusurnya. Seandainya nampak sosok Rasulullah SAW, maka seluruh senjata tajam itu pasti sudah sangat siap menghabisi pribadi Rasulullah dan siapa saja yang mengawalnya.

Timbullah suasana yang sangat menegangkan, sebab seandainya saja mereka sedikit merunduk melihat kedalam gua yang nampak gelap dan sempit itu, pastilah Rasulullah dan Abu Bakar jelas kentara terlihat. Kesedihan tak bisa disembunyikan dari roman muka Abu bakar, beberapa bulir air mata nampak menetes membasahi pipi.

Tetapi pribadi Rasulullah SAW nampak tenang, tidak sedikitpun bersemayam kesedihan dan ketakutan dalam lubuk hatinya, bahkan beliau bersabda kepada Abu Bakar dengan suaranya yang pelan, jelas dan berwibawa: “Jangan Bersedih, Sesungguhnya Allah Beserta Kita!”. Allahu Akbar, pribadi agung yang mantap dengan keyakinan, melahirkan ketenangan disaat kegentingan tak bisa dihindarkan, disaat nyawa menjadi taruhan, disaat kebinasaan seakan akan pasti tak terelakan.

Apa yang hendak ditakuti dari para pemburu itu, jika mereka melaksanakan peraturan pemerintahan yang dzalim dan didasari nafsu keserakahan; sementara kita sedang menjalankan dan menegakan Agama Dien Allah dengan dasar keimanan. Jika kita selamat maka kita hidup dengan mulia dan jika kita mati maka kita mati sebagai syahid, tidak ada ruginya. Bukankah hidup dan mati kita sudah kita ikrarkan untuk Allah?.

Inilah sepenggal kisah mengharukan dalam perjalanan Hijrah Nabi Muhammad yang dikawal Abu bakar. Sampai Akhirnya para pemburu tersebut dibutakan penglihatannya ke arah gua tempat persembunyian Rasulullah., dan beliau selamat serta dapat melanjutkan perjalanannya dengan aman. Kisah ini kemudian diabadikan didalam QS At-taubah (9) ayat 40. Semoga dapatlah kiranya kita mengambil pelajaran berharga. *** (wakariem)

Almukaromah, 4 maret 2017



Share:

Selasa, 28 Maret 2017

dari SEMUT belajar KUAT

Semut dianggap Lemah…

Padahal ia bergerak dan bekerja 24 jam sehari dengan kecepatan 0,5 KM/jam. Jika diukur dengan volume 1/130, maka kecepatan semut seukuran manusia adalah 80 KM/jam.

Semut dianggap Sepele…

Padahal kekuatan semut terletak pada persaudaraan dan kerjasama Tim yang luput dari perhatian yang melihatnya. Semut pencari makanan dan semut tempur berbagi peran dengan tanggungjawab yang sama.

Semut selalu berbagi makanan..

Semut tidak hanya membawa butiran makanan di dalam tubuhnya, tetapi juga saling memberi makan dari mulut ke mulut. Ketika semut pemburu pulang membawa makanan cair, ia menggelengkan kepalanya ke kanan-kiri untuk menarik perhatian kawan-kawannya atau langsung menghampiri mereka dan menunjukkan butiran makanan di mulutnya. 84 Makanan cair dipompa dari tembolok sehingga pembagian makanan berlangsung cepat. Pertukaran makanan ini merupakan contoh berbagi yang luar biasa. Sekam dan biji-bijian yang dibawa ke sarang juga dimakan semua semut bersama-sama. Oleh karena itu, kebutuhan makanan seluruh koloni dapat dipenuhi tanpa masalah.

Semut dianggap Kecil…

Padahal ia tangguh dan kuat. Kekuatannya adalah kekuatan kolektif dan berbagi beban.

Semua spesies semut, yang jumlahnya mencapai kira-kira 8800 spesies, mencari makanan dan membawanya pulang dengan cara yang berbeda-beda. Dalam spesies-spesies tertentu, semut berburu sendirian dan membawa pulang makanannya masing-masing. Spesies lain berburu berkelompok dan membawa serta menjaga makanannya bersama-sama.

Kalau mendapatkan makanan yang ukurannya cocok bagi tubuhnya, biasanya semut membawanya sendirian. Kalau ukuran makanan terlalu besar atau kalau semut menemukan beberapa gundukan kecil makanan di suatu daerah, mereka mengeluarkan hormon beracun untuk mencegah semut lain agar tidak menghampiri daerahnya. Kemudian, mereka memanggil para pekerja lain, besar maupun kecil, untuk bersama-sama mengangkut makanan.

Semut bersama-sama mengangkat makanan...

Dalam kehidupannya, semut juga mengenal pembagian tugas yang sangat sempurna. Semut besar memotong-motong makanan dan menjaganya dari hewan-hewan asing, sementara semut kecil membawa pulang makanan. Semut pekerja mengangkat makanan dengan rahangnya dan membawa makanan di depan selagi kembali ke sarang. Kalau bekerja berkelompok, semut dapat membawa potongan makanan yang lebih besar. Mereka mengangkat makanan menggunakan satu atau dua kaki. Pada saat yang sama mereka juga menggigit makanannya dengan rahang terbuka. Semut pekerja menggunakan cara yang berbeda-beda berdasarkan posisi dan arahnya. Semut yang di depan bergerak mundur sambil menyeret makanan.

Semut yang di belakang berjalan maju sambil mendorong makanan. Semut yang di samping membantu mengangkat. Dengan cara ini, semut dapat mengangkat makanan beberapa kali lebih berat dari yang bisa dibawa seekor semut. Berdasarkan pengamatan, ditemukan bahwa jika semut bekerja sama, mereka dapat mengangkat beban seberat 5000 kali berat yang dapat diangkat seekor semut pekerja. Seratus ekor semut dapat membawa seekor cacing besar di atas tanah dan bergerak dengan kecepatan 0,4 cm per detik.

Semut dianggap Remeh …

Padahal ia cerdas dan sama sekali tidak bisa dianggap remeh.

Semut yang bertugas mencari makan biasanya menjalankan tugas dengan cara yang sulit dijelaskan. Ia berangkat ke sumber makanan dengan berjalan berkelok-kelok, tetapi kembali ke sarang dengan rute lurus yang lebih singkat.

Mencari makan dengan berjalan berkelok-kelok

Penunjuk jalan semut adalah matahari, sedangkan kompasnya adalah cabang pohon dan tanda alam lainnya. Semut mengingat bentuk tanda-tanda ini, sehingga dapat menggunakannya untuk menemukan rute pulang terpendek, meskipun rute ini benar-benar baru baginya. Pada malam hari, mereka dapat menemukan dan mengikuti jalan yang mereka tempuh saat menemukan makanan pada pagi harinya, meskipun kondisinya berubah, karena petunjuk ‘bau’ yang ditinggalkannya. Sungguh semua kondisi alam adalah petunjuk bagi semut demi meraih cita-cita dan demi tunainya tugas.

Dalam mencari mangsa ia berkelok kelok sehingga tak mudah dibaca… tetapi dalam mencapai sarang “tujuannya” , ia mencari jalan terpendek. Kerja yang effektif dan effisien.

Semut dianggap Rapuh …

Padahal ia adalah pemburu yang effectif.

Beberapa spesies semut menggunakan gigi untuk memakan telur laba-laba, ulat, serangga, dan rayap. Banyak spesies semut (misalnya Semut Dacetine) yang khusus memakan serangga tanpa sayap. Serangga yang dimangsa Dacetine ini hidup berkelompok di tanah dan di daun busuk. Ia juga memiliki tonjolan berbentuk garpu di bawah tubuhnya. Ketika ia bergoyang dan berdiri tegak, organ ini melontarkan tubuhnya ke udara dan bergerak maju bagaikan kangguru mini. Semut Dacetine menggunakan rahangnya bagaikan perangkap hewan untuk menghadapi manuver mangsanya. Ketika semut pencari makan mencium bau serangga dengan antenanya, ia mengintai dengan rahang terbuka 180 derajat.

Semut ini mengaitkan gigi kecilnya pada rahangnya dengan cara menekankannya ke langit-langit mulut. Lalu, semut memeriksa sekitarnya dengan menggerakkan antenanya ke depan. Kemudian semut mendekati serangga perlahan-lahan. Ketika antenanya menyentuh mangsanya, si serangga kecil terjangkau oleh gigi bawah semut. Ketika semut menurunkan langit-langit mulutnya, rahangnya mendadak menutup dan mangsanya terjepit di antara giginya.

Kecepatan kedipan mata kita sangat lambat jika dibandingkan dengan kecepatan gigitan semut ini ketika menjebak mangsanya. Kelopak mata kita membuka dan menutup dalam sepertiga detik; rahang semut Odontomachus bawi bekerja 100 kali lebih cepat. Gigitan tercepat yang teramati memakan waktu 0,33 milidetik.

Struktur rahang semut penjebak panjangnya sekitar 1,8 milimeter. Pada bagian dalamnya terdapat kantong udara yang menempel ke trakea. Sistem ini menyebabkan gigi dapat bergerak cepat. Rahangnya berfungsi sebagai perangkap tikus mini. Ketika berburu, rahang terbuka lebar dan siap menutup setiap saat. Kecepatan menggigitnya berkurang menjelang akhir proses menggigit.


Duhai pasukan semut…. biarkan anggapan itu terus menggelontor ke arahmu… agar kau tak diganggu dalam mencapai tujuanmu… agar kau terus giat dan lincah dalam bekerja…

Fokus dan Ikhlash

Pasukan semut tidak menghiraukan “celaan para pencela”, mereka membiarkan berbagai anggapan yang “mengerdilkan” eksistensinya. Semut tetap FOKUS pada pekerjaannya dan tujuannya. “FOKUS dan IKHLASH”… itulah motto pergerakan “Army Ants”.

Tidak Berisik

Begerak ke tujuan tanpa berisik. Berbeda dengan “nyamuk” yang selalu gaduh saat mendekati sasaran. Semut bergerak latin tapi pasti. Tidak butuh kegaduhan, tidak butuh pujian…. benar benar fokus dan ikhlash mencapai tujuan.

Setia kepada Pimpinan

Ratu semut adalah pemimpin yang sangat dihormati dan di taati oleh “Army Ants”, ia mengatur pekerjaan bagi army ants, dan army ants senang melaksanakan tugas dari sang ratu.

Berbagi Peran dalam Tanggung Jawab yang Sama

Ada Ratu Semut, ia bertugas bertugas bereproduksi (bertelur) dan sangat dijunjung tinggi oleh rakyatnya. Ratu semut bisa hidup hingga berumur 20 tahun. Distribusi tugas dan produksi pasukan semut ada ditangannya.

SEMUT PEKERJA tidak bertelur, melainkan mengabdikan dirinya mengurus telur-telur ratunya. Jadi Semua semut pekerja adalah betina. Pendek kata, semua komunitas semut sebenarnya terdiri atas ibu dan putrinya.

Mereka menghadapi risiko kerja yang tinggi, karena medium lembap yang dibutuhkan telur dan larva ideal bagi pertumbuhan bakteri dan jamur yang berbahaya bagi kesehatan semut. Semua semut pekerja adalah betina. Pendek kata, semua komunitas semut sebenarnya terdiri atas ibu dan putrinya.

Semua keperluan sang ratu dipenuhi para pekerjanya. Hal terpenting yang dilakukan semut pekerja adalah melayani sang ratu dan memastikan bahwa sang ratu dan “bayinya” selamat. Sungguh sebuah proyek kaderisasi yang sempurna.

Ada juga semut pekerja yang khusus mencari makanan, ada yang membangun sarang, ada juga semut pekerja yang bertugas mengawini ratu semut muda agar tetap terjadi reproduksi “kader” Army Ants… walaupun setelah perkawinan itu ia mati sebagai martir demi lestarinya “kaderisasi”, dan lain lain.

Semut, baik Ratu maupun pekerja berbagi peran untuk satu tanggung jawab yang sama yaitu melestarikan koloni semut dan membangun kewibawaan kerajaan semut… subhanallah.**** (waiman)

pernah dimuat dalam MAJALAH AMANU

almukaromah, 29 Maret 2017





Share:

Sabtu, 18 Maret 2017

Filosofi (hidup) BUAH Kelapa

Kehidupan itu ibarat buah kelapa, tergantung kesanggupan kita membedahnya, sehingga mampu menikmati hasilnya, setelah dibedah.

Ada yang tidak sanggup mengupasnya, sehingga tertipu ia menyangka intipati buah kelapa itu ya serabutnya saja. Ada yang sudah mau berpayah payah mengupasnya, hanya tidak tuntas, sehingga beranggapan bahwa intipati dari buah kelapa adalah batoknya (tempurungnya).  Ada yang mengupasnya tuntas hingga membuka batoknya dan menemukan daging dan airnya. Yang ketiga inilah yang sebenarnya berhasil mengupas intipati dari buah kelapa.



Kehidupan tidak jauh dari buah kelapa, ada yang tidak mau mengurai makna kehidupan sehingga ia tertipu oleh ‘kulit / cangkang’-nya kehidupan. Pergerakannya hanya berputar putar diseputar perut (ekonomi), kemaluan (seksual) dan wajah (popularitas). Dari pagi hingga malam (24jam) ngulibek’ (berputar) diseputar itu. Hidup ananiyyah (egois, hanya diri dan keluarganya yang diurus dan diperhatikan serta diutamakan dari segala hal,  Inilah Hidup Hissi.

Manusia yang hidup dengan filosofis Hidup Hissi; hanya berani jika lapar; Hanya bergerak untuk memuaskan nafsu syahwatnya;  hanya beraktifitas untuk mengejar popularitas. Akan  tetapi jika Islam terjajah, ia tidak peduli;  Jika Ummat Islam terdzalimi ia acuh tak acuh; Jika program dan amanah kerisalahan terabaikan, ia tidak mau tahu. Sama sekali tidak ada agenda JIHAD Fisabilillah… tidak ada jadwal DAKWAH Ilallah.

Firman Allah SWT: Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”  (QS Al-Jatsiyah ayat 24)

Sabda Rasulullah SAW“Siapa yang tidak memperhatikan urusan umat Islam maka bukan termasuk mereka. Dan siapa yang pagi dan siangnya tidak menyampaikan nasihat kepada Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, imam dan umumnya umat Islam maka bukan termasuk mereka” (HR At-Tabrani)

Oo-

Ada yang sudah mampu mengupas makna kehidupan dan menemukan intisarinya tetapi tidak tuntas. Seperti mengupas buah kelapa baru sampai “batok” (tempurung) nya ia sudah berhenti dan mengatakan inilah intinya.

Manusia seperti ini adalah manusia yang sudah ada di dalam sabilillah (Islam), dan sudah melakukan pengabdian (ibadah), hanya sayang tidak totalitas; belum punya kesadaran yang cukup, belum memiliki keyakinan yang kuat dan belum punya tekad yang membaja. Sehingga sering mudah berubah karena “coba” dan “goda”; Masih suka pilih pilih dalam menunaikan Darma bakti; kerap ragu dalam melakukan kebaikan; Selalu perlu motivasi dari orang lain dalam pergerakannya; Kadang suka merekayasa “keadaan” agar diijinkan untuk tidak melakukan tugas pengabdian; Masih angin- anginan, bagaimana kondisi, atawa kumaha “mood”-na, kadang mawa karep sorangan; tidak mau terpimpin dalam hidup berbaris.  Inilah Hidup Maknawi…. filosofis hidup maknawi.

Firman Allah SWT:Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”  (QS Al-Hajj ayat 11)

Oo-

Ada yang sudah mampu mengupas makna kehidupan dan menemukan intisarinya serta mampu menikmatinya dengan kepuasan, seperti pengupas buah kelapa yang sudah sanggup mengupasnya hingga menemukan daging dan air kelapanya.

Manusia seperti ini adalah manusia yang sudah ada Fi Sabilillah (Islam) dan sudah mendarma baktikan seluruh kehidupannya dalam pengabdian yang totalitas. Inilah filosofis hidup Ma’any. Hidupnya sudah dipergunakan untuk melakukan amal bakti sebanyak banyaknya dan sesempurna sempurnanya. Amal bakti yang timbul dari keyakinan yang kuat dan Iman yang teguh. Amal yang dilakukannya hanya karena mengharapkan Rahmat dan Ridho Allah semata

Orang yang hidup dengan filosofis hidup Ma’any ini sudah tidak mengenal sukar dan sulit, berat dan susah, takut dan was was dan lain lain yang akan mencegah manusia melakukan amal yang sempurna. Tentu filosofis hidup Ma’any ini tidak akan diraih tanpa kemurahan dan karunia Allah

 Firman Allah SWT: Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”  (QS Al-Baqarah ayat 207) **** (waiman)   

Pernah dimuat dalam MAJALAH AMANU

Almukaromah, 18 Maret 2017
Share:

Sabtu, 11 Maret 2017

Berdo'a dengan Perantaraan Amal Shaleh


Dahulu ada tiga orang yang berjalan-jalan jauh, hingga terpaksa harus bermalam diperjalanan, dalam sebuah goa. Tanpa diduga, tiba-tiba terjadi longsor yang menyebabkan pintu goa tertutup oleh batu besar. Batu besar yang menutup rapat pintu goa itu, menyebabkan ketiga orang tersebut tidak bisa keluar. Berbagai usaha telah dilakukan, tetapi tetap saja batu besar itu tidak bergeser dari tempatnya semula, dan ketiga orang tersebut tidak bisa keluar.

Setelah segala usaha menggeser batu mengalami kegagalan, akhirnya salah seorang dari mereka berkata: “Sungguh tiada sesuatu yang dapat menyelamatkan kalian dari bahaya ini kecuali jika kalian berdoa kepada Allah dengan (perantara) amal-amal shaleh yang pernah kalian lakukan dahulu !

Mulailah ketiga orang tersebut berdo’a kepada Allah dengan perantaraan amal shaleh yang dahulu pernah dilakukannya:

Orang pertama berdo’a: “Yai Allah dahulu saya mempunyai ayah dan ibu, dan saya biasa tidak memberi minuman susu pada seorang pun sebelum kepada keduanya. Pada suatu hari saya menggembalakan ternak ditempat yang jauh, sampai saya tidak bisa pulang kecuali sesudah larut malam, sementara ayah ibuku telah tidur. Maka saya terus memerah susu untuk keduanya dan saya pun segan untuk membangunkan keduanya, dan saya pun tidak akan memberikan minuman itu kepada siapa pun sebelum kepada ayah ibuku. Kemudian, saya menunggu keduanya hingga terbit fajar, maka bangunlah keduanya dan minum dari susu yang saya perah itu. Padahal semalam anak-anakku menangis didekat kakiku meminta susu itu. Ya Allah, jika saya melakukan itu semua benar-benar karena mengharapkan ridha-Mu maka lapangkanlah keadaan kami ini!”. Ajaib, batu itu pun bergeser sedikit namun mereka belum dapat keluar darinya.


Orang yang kedua berdoa,”Ya Allah saya pernah mencintai seorang gadis pamanku, karena sangat cintanya saya selalu merayu dan ingin berzina dengannya; akan tetapi ia selalu menolak hingga terjadi pada suatu saat ia menderita kelaparan dan datang minta bantuan kepadaku; maka saya memberikan kepadanya 120 dinar; akan tetapi dengan perjanjian bahwa ia akan menyerahkan dirinya kepadaku pada malam harinya. Kemudian ketika saya telah berada diantara dua kakinya, tiba-tiba ia berkata,’Takutlah kepada Allah dan tidak dibenarkan hubungan ini kecuali dengan cara yang halal. Saya pun segera menghindarinya padahal hasratku masih menginginkannya. Saya tinggalkan dinar mas yang telah saya berikan kepadanya itu. Ya Allah jika saya melakukan itu semata-mata karena mengharapkan ridha-Mu maka hindarkanlah kami dari kemalangan ini!”. Keajaiban kedua terjadi, batu itu pun bergeser sedikit namun mereka belum dapat keluar.

Orang yang ketiga berdoa,”Ya Allah dahulu saya seorang majikan yang mempunyai banyak buruh pegawai. Suatu hari ketika saya membayar upah buruh-buruh itu tiba-tiba ada seorang dari mereka yang tidak sabar menunggu dan ia segera pergi meninggalkan upah, terus pulang ke rumahnya dan tidak kembali. Maka saya kelola upah itu sehingga bertambah tanpa sepengetahuan buruhku itu, dan hasilnya berbuah menjadi kekayaan yang banyak. Setelah beberapa waktu lamanya buruh itu pun datang dan berkata,’Wahai Abdullah berilah kepadaku upahku dahulu itu?’ Saya menjawab,’Semua kekayaan yang didepanmu itu adalah dari upahmu yang berupa onta, lembu dan kambing serta budak penggembalanya itu.’ Orang itu berkata,’Wahai Abdullah kau jangan mengejekku.’ Saya menjawab,’Saya tidak mengejekmu.’ Lalu diambilnya semua yang disebut itu dan tidak meninggalkan satu pun daripadanya. Wahai Allah jika saya melakukan itu semua karena mengharapkan Ridha-Mu maka hindarkalah kami dari kesempitan ini”!. Keajaiban ketiga terjadi, batu itu pun bergeser hingga mereka dapat keluar darinya dengan selamat.

Kisah ini diterjemahkan secara adaftif dari Hadits riwayat Bukhori dan Muslim yang bersumber dari Ibnu Umar.

Sungguh, amalan shaleh yang dilakukan dengan ikhlash dapatlah kiranya dijadikan penghantar do’a kita kepada Allah, sekaligus dapat menyelamatkan kita dari kemalangan yang diderita. Beramal shalehlah sebanyak-banyaknya dan berdo’alah dengan penghantar amal shaleh yang dilakukan, semoga maqbul.** Wallahu a’lam bishowab *** (waiman)

Almukaromah, 11 Maret 2017.
Share:

Selasa, 07 Maret 2017

Harapan & Angan Angan

Seorang petani yang mencari benih unggul Padi, sengaja ia memilih yang terbaik, walau sedikit mengeluarkan “biaya lebih” dari kantongnya. Dia olah tanah sawahnya dengan cara terbaik, walau sedikit menghabiskan “waktu lebih” di sekotak sawahnya. Tidak lupa ia memupuk dengan pupuk alami dan kimia sesuai arahan mentornya di kelompok tani. Setiap hari ia mengolah tanahnya, mengusir hama dan gulma yang akan menggerogoti tanaman pertaniannya, walau kerap ia menggunakan “tenaga lebih” untuk itu.

Kiranya inilah petani yang boleh berHARAP 3 bulan lagi ia akan memanen hasil usahanya. Bahkan wajib “berharap lebih” karena ia telah menggunakan WAKTU, BIAYA, dan TENAGA “lebih” dari yang lainnya dalam mengelola dan memelihara tanaman pertaniannya.


Oo-

Sebaliknya jika bukan benih unggul yang ditanam, tidak ditanam di lahan tanah yang subur, tidak mengolahnya dengan serius, tidak memelihara dengan tekun… ia seringkali ongkang ongkang kaki, terlelap dalam lamunan di kursi malas, maka 3 bulan lagi akan memanen hasil taninya dengan hasil yang banyak itulah namanya “ANGAN ANGAN”.

Oo-

Itulah bedanya Harapan (Roja’) dengan Angan-angan (Amaniy)

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. (QS 4/123)

Barang siapa yang MENGHARAP pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS 29/5)

Semoga bermanfaat**** (wakariem)

Almukaromah, 7 Maret 2017

Share:

Lembut namun Tidak bisa Ditusuk

Tidaklah Allah ciptakan alam ini dengan sia-sia.

Selalu ada tujuan mulia dan senantiasa ada pelajaran berharga dari setiap sosok makhluq. Kali ini cobalah sEdikit rileks sambil mengambil pelajaran dari guru bisu kita yaitu "Air".

Ada sebait karya tutur dari master islamic shaolin yang sangat indah menggambarkan pengajaran berharga dari GURU BISU kita yitu "AIR":


Air bersifat mengalah, 
namun selalu tidak pernah kalah 
Air mematikan api dan membersihkan kotoran. 
Kalau merasa sekiranya akan dikalahkan, 
air meloloskan diri Dalam bentuk uap dan kembali mengembun. 
Air merapuhkan besi sehingga hancur menjadi abu 
Bilamana bertemu batu arang, 
dia akan berbelok untuk kemudian meneruskan perjalanannya kembali. 
Air membuat jernih udara sehingga angin menjadi mati 
Air memberikan jalan pada hambatan dengan segala kerendahan hati. 
Karena dia sadar bahwa tak ada suatu kekuatan apapun Yang dapat mencegah perjalanannya menuju lautan. 
Air menang dengan mengalah, 
dia tak pernah menyerang Namun selalu menang pada akhir perjuangannya.

(Master Saeho-Master Lan She Lung the Islamic Shaolin Kung Fu)---

Oo-

Air bisa tersebar dimana-mana, diseluruh daratan bumi ini, di dalam tubuh manusia, di dalam pohon dan di segala jenis makhluk. Tetapi ia memiliki tujuan yang jelas yaitu "LAUT". Pasti semua begerak dan mengalir kelaut, Tujuannya jelas, cita-citanya kuat. Inilah pelajaran pertama dari sang guru kita dalam kebisuan kata kata.

Gerakannya tegas mengarah ke tujuan, langkahnya pasti menuju lautan. Ia turun dari gunung melalui jalur darat yang terjal. Ia membuka hambatan-hambatan dengan penuh kelembutan, kesabaran dan keuletan. Jika ia bertemu batu cadas yang keras, ia berkelok ke pinggirnya, jika dipinggirnya juga batu keras, ow... ia tertawan.

Air tak pernah menyerah, ia bergerak secara laten (rahasia), menembus pori-pori batu mencari celah jalan walau hanya sebesar lubang jarum atau lebih kecil, merembes terus menelusuri lorong-lorong mikro kecil sibatu keras yang menawannya. Sehingga muncul mata air, air keluar dari bebatuan, atau dari tanah-tanah subur. Sungguh perjalanan yang tak mudah dibaca dari rupa air yang lembut tetapi berhati kuat tegas menuju cita-cita.


Jika Sang batu tak bisa ditembus, karena sang batu berhasil merapatkan, dan memadatkan dirinya; tak sedikitpun memberi peluang air merembes, menerobos pertahanannya. Maka: Sang air akan dengan sabar menunggu kawanan air lain datang berkumpul, bersekutu menghadapi kepungan batu keras tadi. Jika sudah terkumpul, maka ia lampaui batu keras keatasnya dengan tenang tanpa menghancurkan batu keras tersebut.

Namun jika tidak bisa dilampaui, kadang sang air berubah menjadi uap, bersekutu dengan sang surya. Naik ke atas namun tidak untuk menuju matahari, ia hanya sekedar menebar diudara menjadi titik titik uap yang berserakan untuk kemudian menjatuhkan diri dengan lembut menjadi embun karena tujuannya adalah LAUT.

Tapi jika Sang surya tidak bisa dijadikan sekutunya maka ia bergeriliya untuk melubangi batu keras itu secara perlahan-lahan namun pasti. Tercipta rembesan rembesan ciptaan air, bukan lubang kecil bawaan sang batu. Tapi jika tidk bisa juga?, ia basahi... basahi... basahi batu itu agar menjadi rapuh.

Kadang sang batu terlalu kuat. Lantas bagaimana sang air?, apakah ia prustasi? patah semangat? kehilangan orientasi menuju tujuannya?.

Tidak tak ada kata menyerah kalah bagi sang air, ia teramat kukuh kuat memegang komitmen dan menuju cita-citanya. Sepertinya lembut, sepertinya lemah, seperti mengalah... ia KUAT... lebih kuat daripada batu atau baja yang mengepung dan menawannya. Ia akan menampakan dengan kekuatan sesungguhnya, ia hancurkan batu besar yang menawannya, ia jebol pertahananya... LUAR BIASA.

Kadang ia dipaksa membeku menjadi es. Namun pada waktunya ia bergerak mencair kembali... rupanya kekerasan dan kelembutan tak sanggup menahan gerak laju sang air yang berkeras menuju cita cita perjalannannya.

Ia lembut namun tak bisa ditusuk, tak bisa dipatahkan, tak bisa hancurkan dengan kekuatan apapun.

dia tetap eksis walau dengan berubah wujud, kadang cair, bisa jadi padat (es) bahkan bisa juga bersenyawa dengan udara menjadi uap. Dia dinamis dan pleksibel dalam wujud tetapi identitasnya tetap, eksistensinya tetap "AIR". 

Formasinya juga pleksibel, jika ditampung dalam botol akan membentuk botol, jika ditampung dalam gelas akan membentuk gelas. Dalam tubuh manusia, air akan keluar dalam format darah, keringat, nanah dan air mata. Sesuatu plesibilitas yang melelahkan tapi sanggup dijalani demi mencapai cita-cita. PLEKSIBEL DALaM FORMAT, DINAMIS DALAM GERAK, TETAPI TETAP EKSISTENSINYA DAN TETAP IDENTITASNYA.

YA ALLAH SUCIKANLAH (DOSAKU) DENGAN AIR, SALJU DAN EMBUN!!!!
ALLAHUMMAGSILNII BILMAAI WA TSALJI WAL BARODI**** (waiman)

pernah dimuat dalam majalah AMANU.

Almukaromah, 7 Maret 2017
Share:

Sabtu, 04 Maret 2017

Rakus Dunia

((Dikisahkan)) Seekor anjing yang sangat rakus. Dengan tubuhnya yang besar dan gigi taringnya yang tajam, ditambah suaranya yang nyaring, si Rakus ini menjadi raja jalanan.

Sudah banyak korban sesama anjing yang direbut makanannya oleh si rakus. Kerap makanan dimulutnya belum habis, si rakus merebut paksa makanan dari anjing lainnya.

Suatu hari ia kelaparan, jalanan sepi, hanya angin semilir yang mengelus elus perutnya yang kempes. Setelah mondar mandir ke berbagai arah dengan jarak tempuh yang jauh, akhirnya ia temukan sepotong daging, mungkin agak basi sisa makanan manusia yang dibuang ke tempat sampah. “ah... daripada tidak ada”, kata si Rakus.

Berjalan melewati sungai dengan jembatan bambu yang kecil. Ketika ia melihat kebawah, ia temukan sepotong daging segar sedang digigit seekor anjing besar. Ia lompat untuk merebut makanan yang digigit anjing tadi, mungkin si rakus tertarik oleh segarnya daging yang dibawa anjing lain.

Tak disangka ternyata, yang diterkam si Rakus adalah bayangan dirinya sendiri yang dipantulkan air bening sungai kecil. Badannya basah kuyup, daging yang digigitnya hanyut oleh arus sungai dan nyawanya terancam. Susah payah rupanya si Rakus keluar dari kemelut maut. Walau akhirnya berhasil juga ia naik ke darat dengan nafas yang terengah engah.

Berjalan lunglai tanpa tenaga, dengan perutnya yang semakin lapar. Oh kasihan.

(cerita disadur dari “Bahrul Adab”)

0oo

Tentu saja cerita itu adalah fiktif. Namun ada pesan mulia yang termuat dibalik cerita itu:



Pesona dunia itu sangat menipu, fatamorgana dan nisbi

Firman Allah SWT berikut ini: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S. Al-Hadiid [57]:20)


Pesona dunia membuat penikmatnya mencandu, bertobatlah dari candu khayal duniawi.

Rasulullah saw bersabda, "Andaikan seorang anak Adam (manusia) mempunyai satu lembah dari emas pasti ia ingin mempunyai dua lembah dan tidak ada yang dapat menutup mulutnya (menghentikan kerakusannya kepada dunia) kecuali tanah (maut). Dan Allah berkenan memberi taubat kepada siapa yang bertaubat."  (Bukhari - Muslim)



Kerakusan pada dunia berakibat mencelakakan diri sendiri. 


Rasulullah saw berikut ini: “Kalau begitu, bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku kahwatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (Hadits riwayat Muslim (2961) dan al-Bukhari (6425), dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab tentang Zuhud hal. 73)*** (wakariem)

almukaromah, 4 maret 2017
Share: