Tampilkan postingan dengan label Amtsal Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amtsal Qur'an. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Maret 2017

TAK BERAKAR TAK BERBUAH

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? “ [QS Al-Munafiqun 63:4]

Kaum munafiqun oleh Allah diibaratkan dengan “kayu yang bersandar”. Kayu yang bersandar bisa jadi terlihat bagus karena sudah dipotong dan dihaluskan , sehingga Nampak indah. Tetapi sebenarnya kayu itu tidak berakar kuat dan tidak akan menghasilkan buahnya. TAK BERAKAR TAK BERBUAH. Karena sudah terpisah dari pohonnya.


Sebuah gambaran bagi kaum munafiqun yang Nampak hebat secara performance bahkan sangat memukau saat ‘berkicau’. Tetapi itu hanyalah kulit luar yang Nampak,  sementara isinya keropos. Walaupun nampak hebat dalam amal tetapi tidak memiliki landasan Iman yang kuat sehingga kehebatannya tidak akan menghasilkan manfaat bagi Islam dan ummat Islam. Kehebatannya hanya berbuah (bermanfaat) bagi kepentingan dirinya sendiri.



Kehebatan dan prestasi yang prestisius dari munafiqun hanya sebagai alat untuk mengelabui orang yang beriman. Jabatan yang tinggi dipakai untuk menghisap harta dan memeras keringat kaum mukminin saja. Kepintaran munafiqun benar-benar menjadi senjata untuk tipu menipu terhadap kaum beriman. “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” [QS Al-Baqarah 2:9]


Telah banyak fakta bahwa sebagian munafiqun berhasil berprestasi dalam gerakan islam, tetapi sejatinya hanya medium untuk memudahkan mereka membuat rencana jahat, dan mengyoyak ukhuwwah ummat islam, atau menyebarkan pemahaman yang sesat.

Mereka menyusup dalam gerakan-gerakan jihad, dan mengincar posisi terhormat semata-mata agar agendanya yaitu memadamkan cahaya Allah itu berhasil.

Retorika mereka mungkin sangat meikat hati, padahal dalam tataran implementasi apa yang diucapkannya jauh dari perbuatannya. Apa yang bdiucapkanya hanyalah dusta, gincu bibir penghias dan penutup borok saja. 

Munafiqun yang tampil dengan performance yang menakjubkan dan retorika yang memukau ini sangat berbahaya. Sebab biasanya sangat diturut oleh kaum muslimin yang berhasil ditipunya. Allah menyatakan mereka adalah musuh yang sebenarnya, maka berhati-hatilah.

Kewaspadaan terhadap mereka akan mudah dideteksi dengan melihat ciri-ciri Munafiqun. Hingga sejak dini dapatlah dirasakan dan dikendalikan.

Semoga waspada**** (waiman)


Share:

Kamis, 02 Februari 2017

Anjing yang “menjulurkan Lidahnya”

Bismillahirrahmanirrahim

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. Al A'raf (7) ayat 176)

Anjing adalah hewan yang loyal kepada siapa saja yang memberi makan, tanpa peduli siapa pemberi makannya itu; apakah ia jahat atau tidak. Hanya satu bayaran loyalitasnya adalah memenuhi kebutuhan perutnya saja.

Al-Qur’an memberi perumpamaan orang yang memasrahkan dirinya kepada daya tarik duniawi dan demi memperturutkan hawa nafsunya, adalah seperti Anjing yang mengulurkan lidahnya.

Adalah manusia “anjing” yang menolak ketinggian derajat dan martabatnya disisi Allah, dan lebih memilih kerendahan dengan hanyut mengikuti derasnya kebutuhan syahwat duniawi serta asik masyuk dengan daya tarik bumi (dunia) yang aduhai.

Allah Ta’ala dengan firmanNya menjelaskan, bahwa mereka adalah orang orang yang mendustakan ayat-ayat Allah (QS Al A’raf (7) ayat 177)

Oo-

Tipologi manusia anjing ini bukan umpama bagi manusia yang bodoh dengan isi Al Kitab (kitab suci), bahkan mungkin sangat mengerti isinya. Adalah umpama bagi Manusia yang sudah mengerti kebenaran, tetapi melepaskannya karena tergoda oleh syetan. Rupanya baginya, rayuan Kalam Ilahy tidak lebih dahsyat daripada daya tarik bumi (duniawi). 

Ayat sebelumnya, Allah berfirman: “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat" (QS. 7:175) 

Menurut Ibnu mas’ud (dalam tafsir Ibnu Katsir), ayat ini berkenaan dengan seorang Ulama bani Israil yaitu Bal’am Bin Baurah.  Malik Ibn Dinar mengatakan ialah Ulama bani Israil yang do’anya selalu dikabulkan oleh Allah (saking salehnya).

Bal’am Bin Baurah adalah seorang Ulama Ahli KItab dan juga pengikut utama Nabiyullah Musa As; selain pintar ia juga shaleh, sebab itu do’anya sering dikabulkan oleh Allah. Sayang seribu sayang ia malah berbelok menjadi loyalis Fir’aun demi sekantung emas dan perak; dan demi tidak dipenjara oleh Fir’aun. Nabi Musa AS ditinggalkan dan Taurat di tanggalkan, menginginkan hidup enak sesuai hasrat nafsunya.*** (wakariem)

Sub: PERUMPAMAAN AL-QUR’AN (Amtsal Qur’an)

Semoga bermanfaat. Wasalaaam… 



Almukaromah, 3 Februari 2017.
Share: